Pertanyaan yang Menggelisahkan Setiap Zaman
Bayangkan masyarakat yang sempurna menurut Anda.
Setiap orang bebas melakukan apa yang mereka suka. Tidak ada yang memberitahu Anda apa yang harus dipercayai, apa yang harus dibaca, bagaimana harus hidup. Demokrasi penuh. Kebebasan total. Pasar bebas untuk ide dan barang.
Kedengarannya ideal, bukan?
Sekarang bayangkan hasilnya: Orang kaya semakin kaya tanpa tanggung jawab sosial. Kelas menengah terobsesi dengan uang dan status, tapi tidak punya visi yang lebih tinggi. Kelas pekerja gelisah, marah, kadang kekerasan—karena meskipun mereka punya "kebebasan," mereka tidak punya pendidikan atau kesempatan untuk menggunakannya dengan bijak.
Media penuh dengan opini yang keras tapi dangkal. Politik menjadi arena pertarungan kepentingan kelompok, bukan pencarian kebenaran. Agama terpecah menjadi sekte-sekte yang saling bertikai. Pendidikan menjadi sekadar pelatihan untuk mencari uang, bukan pembentukan karakter.
Selamat datang di Inggris tahun 1860-an—menurut Matthew Arnold.
Tapi tunggu. Bukankah ini juga terdengar seperti...hari ini?
Tahun 1869, di tengah era Victoria yang penuh optimisme tentang kemajuan, industrialisasi, dan demokrasi, Matthew Arnold menulis sebuah buku yang menggelisahkan: "Culture and Anarchy."
Argumennya radikal dan tidak populer: Kebebasan saja tidak cukup. Demokrasi saja tidak cukup. Kemakmuran materi saja tidak cukup.
Tanpa sesuatu yang lebih tinggi—yang dia sebut "culture" atau budaya—masyarakat akan jatuh ke dalam kekacauan, bukan hanya kekerasan di jalan, tapi kekacauan moral dan intelektual yang lebih dalam.
Dan lebih dari 150 tahun kemudian, argumennya masih mengganggu—karena mungkin dia benar.
Mari kita gali apa yang dimaksud Arnold, dan mengapa ini penting untuk kita hari ini.