Anda Mungkin Sudah Berada di Dalam Kultus—dan Tidak Menyadarinya
2017. Amanda Montell, seorang ahli bahasa berusia 25 tahun, berdiri di ruangan gelap dengan 50 orang asing. Musik techno menggelegar. Instruktur di atas sepeda statis berteriak melalui mikrofon:
"Kalian adalah PEJUANG! Kalian adalah PEMBERANI! Bersama kita TIDAK TERKALAHKAN!"
Semua orang berteriak balik. Keringat bercucuran. Adrenalin memuncak. Dan Amanda merasakan sesuatu yang aneh: euforia kolektif.
Ini bukan ibadah. Ini bukan rapat politik. Ini adalah kelas sepeda statis SoulCycle yang biayanya $34 untuk 45 menit.
Tapi bahasa yang digunakan? Identik dengan kultus agama.
Pulang dari kelas itu, Amanda—yang sudah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari linguistik kultus—menyadari sesuatu yang mengejutkan:
Cultish language tidak hanya ada di dalam Jonestown atau Heaven's Gate. Dia ada di gym Anda. Di kantor startup Anda. Di grup MLM teman Anda. Di komunitas online yang Anda ikuti.
Dan yang lebih mengejutkan? Anda mungkin menggunakan bahasa yang sama tanpa sadar.
"Cultish" bukan buku tentang kultus gila yang membuat orang bunuh diri massal. Ini buku tentang bagaimana bahasa—kata-kata yang tampak tidak berbahaya—digunakan untuk menciptakan identitas, loyalitas, dan dalam kasus ekstrem, fanatisme yang berbahaya.
Dari Scientology hingga SoulCycle. Dari MLM hingga startup "family." Dari QAnon hingga komunitas wellness Instagram.
Semuanya menggunakan playbook linguistik yang sama.
Dan begitu Anda memahami playbook itu, Anda tidak akan pernah melihat dunia dengan cara yang sama lagi.
Mari kita mulai.