Perusahaan dengan 47 Prioritas Strategis
Tahun 2018. Richard Rumelt duduk di ruang rapat mewah sebuah perusahaan Fortune 500.
CEO yang brilian—lulusan Harvard, pengalaman 20 tahun—menjelaskan "strategi" perusahaan mereka. Dia membuka slide PowerPoint yang penuh dengan diagram, chart, dan bullet points.
"Ini prioritas strategis kami," katanya dengan bangga.
Rumelt menghitung. Ada 47 prioritas.
"Permisi," Rumelt mengangkat tangan. "Anda bilang ini semua prioritas?" "Ya, semuanya penting."
"Kalau semuanya prioritas," Rumelt berkata pelan, "berarti tidak ada yang prioritas." Ruangan hening.
CEO defensif. "Tapi semua ini penting! Kami tidak bisa mengabaikan salah satunya. Kami harus—"
Rumelt memotong. "Boleh saya bertanya: Bagaimana kinerja perusahaan Anda dalam tiga tahun terakhir?"
CEO terdiam. Semua orang tahu jawabannya: stagnan. Market share turun. Kompetitor mengambil alih. Tim eksekutif burnt out. Tidak ada momentum.
Inilah masalah klasik yang Rumelt lihat berulang kali dalam 40 tahun karirnya sebagai konsultan strategi: Perusahaan dan pemimpin tenggelam dalam kompleksitas, mencoba melakukan segalanya sekaligus, dan akhirnya tidak mencapai apa-apa yang signifikan.
Mereka tidak punya crux.