Ukuran teks
18

Dua Dunia yang Tak Pernah Bertemu

Bayangkan sebuah hari Sabtu di penghujung Agustus, di sebuah vila bergaya Georgian di Richmond, London barat daya. 

Di dalam halaman yang luas, para politisi dan kaum sosialita berkumpul di bawah dekorasi bendera warna-warni yang rapi. Mereka mengenakan pakaian mahal, memegang segelas Pimm's dingin, dan saling berbisik gosip sambil tertawa ringan. Ini adalah pesta pertunangan — perayaan untuk mereka yang sudah pasti berada di sisi yang tepat dari garis sosial. 

Sementara itu, tidak jauh dari sana, di tepi Sungai Thames yang kelabu, sebuah tim dayung pagi menemukan sesuatu yang mengapung di permukaan air. Bukan sampah. Bukan kayu hanyut. 

Sesosok tubuh perempuan. 

Di satu sisi: gelak tawa dan kenyamanan orang-orang yang merasa dunia milik mereka. Di sisi lain: kematian yang diam-diam menunggu ditemukan. 

Inilah dunia yang digambarkan Charlotte Vassell dalam The In Crowd — sebuah dunia di mana kekayaan dan kekuasaan membangun tembok tak kasat mata. Di satu sisi tembok itu ada mereka yang disebut the in crowd: kaum elit, kalangan atas, orang-orang yang bisa lolos dari apa pun, bahkan dari pembunuhan. Di sisi lain ada semua orang lainnya — termasuk seorang detektif bernama Caius Beauchamp, yang pekerjaannya menuntut dia masuk ke dalam dunia yang tidak pernah benar-benar menerimanya. 

Novel ini adalah pemenang penghargaan Edgar Award untuk Novel Terbaik 2025 — penghargaan paling bergengsi dalam dunia fiksi kriminal. Dan setelah Anda membacanya, Anda akan tahu mengapa. 

Mari kita masuk ke dalam cerita ini — ke dalam dunia kemewahan yang menyimpan kejahatan lama, dan ke dalam pikiran seorang detektif yang tidak mau berhenti sebelum kebenaran terungkap.

 


1 dari 9