Pilihan antara Hidup dan Prinsip
Bayangkan ini: Anda divonis mati atas kejahatan yang tidak Anda lakukan.
Vonis dijatuhkan oleh pengadilan yang korup. Saksi-saksinya berbohong. Tuduhan-tuduhannya absurd. Anda tahu ini. Semua orang yang peduli pada kebenaran tahu ini.
Tapi pengadilan sudah memutuskan. Dalam beberapa hari, Anda akan dieksekusi.
Lalu, di tengah malam, sahabat terbaik Anda datang ke sel penjara. Dia membawa kabar baik: dia sudah menyuap penjaga. Kapal sudah menunggu di pelabuhan. Keluarga dan teman-teman Anda sudah siap menyembunyikan Anda di kota lain. Anda bebas. Anda bisa hidup.
Yang Anda perlu lakukan hanya satu hal: melanggar hukum.
Apa yang akan Anda lakukan?
Ini bukan pertanyaan teoretis. Ini adalah pilihan nyata yang dihadapi oleh Socrates—filsuf paling berpengaruh dalam sejarah Barat—pada tahun 399 Sebelum Masehi di penjara Athens.
Dan jawabannya mengejutkan dunia selama 2.400 tahun.
"Crito" adalah dialog yang ditulis oleh Plato, murid Socrates, yang merekam percakapan terakhir antara Socrates dan sahabatnya, Crito, pada malam sebelum eksekusi.
Ini bukan sekadar debat filosofis abstrak. Ini adalah percakapan tentang hidup dan mati, tentang prinsip dan pragmatisme, tentang apa artinya hidup dengan integritas bahkan ketika harga yang harus dibayar adalah nyawa Anda sendiri.
Mari kita masuk ke penjara Athens pada pagi hari yang mengubah filsafat selamanya.