Sepuluh Tiga Puluh Pagi
Bayangkan ini: Setiap pagi, tepat jam 10.30, seorang wanita berusia 73 tahun duduk di mejanya. Di depannya: secangkir teh Irish breakfast dengan susu, kertas surat berkualitas tinggi dengan namanya tercetak di atas, dan pena fountain kesayangannya.
Dia bukan menulis email. Bukan mengetik di laptop. Dia menulis surat—dengan tangan, dengan tinta, dengan waktu yang melambat.
Kepada siapa dia menulis?
Kepada semua orang: saudaranya di Prancis, sahabat terbaiknya di Connecticut, tetangganya yang menyebalkan, presiden universitas yang menolak permohonannya, penulis favorit seperti Joan Didion dan Larry McMurtry, bahkan customer service yang tidak responsif.
Dan satu orang—yang dia tulis surat setiap minggu selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah mengirimnya.
Nama wanita ini adalah Sybil Van Antwerp. Dan kehidupannya—dengan semua kecemerlangan, kegagalan, cinta, dan penyesalan—tertuang dalam surat-surat ini.
Tapi ada masalah: Sybil mulai kehilangan penglihatannya.
Degenerasi makula—kondisi yang perlahan tapi pasti akan membuatnya buta. Dan bagi seseorang yang hidupnya adalah kata-kata di atas kertas, kehilangan kemampuan untuk melihat adalah kehilangan segalanya.
"Aku adalah wanita tua, dan hidupku adalah keseimbangan aneh antara yang ajaib dan yang biasa-biasa saja," tulis Sybil.
Tapi apa yang terjadi ketika wanita yang hidup dalam kata-kata terpaksa menghadapi semua yang tidak pernah dia katakan? Ketika seseorang dari masa lalunya memaksanya untuk menghadapi kesalahan yang telah dia kubur selama puluhan tahun?
Dan yang paling penting: Apakah tidak pernah terlambat untuk pengampunan—untuk diri sendiri dan untuk orang lain?
Virginia Evans menulis The Correspondent sebagai novel epistolari—seluruh cerita diceritakan melalui surat-surat. Tidak ada narasi orang ketiga. Hanya surat yang Sybil tulis dan yang dia terima. Dan dalam surat-surat itu, kita menemukan kehidupan yang penuh dan kompleks—kehidupan yang pada akhirnya tentang keberanian untuk mengakui kesalahan dan kekuatan untuk memaafkan.