Ukuran teks
18

Sandwich Seharga $100 yang Mengubah Restoran

Tahun 2004, Howard Wein menghadapi masalah besar. 

Dia baru membuka restoran steak mewah bernama Barclay Prime di Philadelphia. Lokasi bagus. Interior elegan. Chef berbakat. Tapi ada satu masalah: tidak ada yang tahu restorannya ada. 

Iklan di koran? Terlalu mahal dan tidak efektif. Billboard? Sama saja. Radio? Siapa yang mendengarkan? 

Howard butuh sesuatu yang membuat orang membicarakan restorannya. Bukan hanya datang sekali, tapi menceritakannya ke teman, keluarga, kolega. 

Lalu dia mendapat ide yang terdengar gila: sandwich keju seharga $100. 

Bukan sandwich biasa. Ini adalah cheesesteak (sandwich khas Philadelphia) yang dibuat dengan: 

● Wagyu beef 

● Foie gras 

● Truffle 

● Disajikan dengan champagne 

$100. Untuk sandwich. 

Semua orang di timnya berpikir dia gila. "Siapa yang akan membeli sandwich $100?"

Tapi Howard tahu sesuatu yang mereka tidak tahu. 

Beberapa minggu kemudian, cerita tentang "sandwich $100" muncul di David Letterman Show. Di berbagai blog makanan. Di percakapan kantor di seluruh Philadelphia. "Eh, kamu dengar ada sandwich $100 di Barclay Prime?"

Orang-orang datang bukan hanya untuk membeli sandwich $100 (meskipun beberapa membelinya). Mereka datang karena penasaran. Mereka ingin melihat restoran yang "gila" menjual sandwich seharga itu. Dan saat sudah di sana, mereka memesan menu lain. 

Restoran menjadi ramai. Tidak butuh iklan jutaan dolar. Hanya satu ide yang membuat orang bicara

Inilah kekuatan word of mouth—rekomendasi dari mulut ke mulut. Dan ada ilmu di baliknya. 

Jonah Berger, profesor marketing di Wharton School, menghabiskan lebih dari 10 tahun meneliti pertanyaan sederhana tapi fundamental: 

Mengapa sesuatu menjadi viral? 

Mengapa beberapa produk, ide, video, atau restoran dibicarakan semua orang sementara yang lain dilupakan? 

Apakah itu keberuntungan? Kebetulan? Atau ada pola yang bisa diprediksi?

Jawabannya mengejutkan: Ada formula. Dan Anda bisa menggunakannya.

Mari kita mulai.

 


1 dari 9