Telepon yang Mengubah Segalanya
Januari 1990. Tom Kalinske sedang liburan bersama keluarga di Hawaii.
Dia baru saja resign sebagai CEO Mattel—perusahaan mainan terbesar di dunia. Setelah puluhan tahun membangun karir, dia akhirnya punya waktu untuk istirahat. Untuk berpikir. Untuk menikmati hidup tanpa tekanan.
Lalu telepon berdering.
Di ujung sana adalah Hayao Nakayama—CEO Sega Enterprises dari Jepang. Dia punya tawaran yang tidak masuk akal:
"Saya ingin Anda memimpin Sega of America dan mengalahkan Nintendo."
Kalinske tertawa. Mengalahkan Nintendo? Perusahaan yang menguasai 90% pasar konsol game di Amerika? Perusahaan yang namanya sudah identik dengan video game itu sendiri?
Itu seperti meminta seseorang mengalahkan Coca-Cola. Atau Microsoft. Atau Google di era mereka.
Tapi Nakayama serius. Dan dia menawarkan satu hal yang membuat Kalinske tertarik: kebebasan penuh untuk menjalankan Sega of America dengan caranya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, Kalinske duduk di kantor barunya di Redwood City, California, memandangi angka penjualan yang menyedihkan.
Sega Genesis—konsol yang seharusnya mengalahkan Nintendo—hanya menguasai 5% pasar. Nintendo punya Mario. Mereka punya monopoli. Mereka punya segalanya.
Sega punya... apa?
"Kita akan kalah," kata salah satu eksekutif Sega dengan pesimis.
Kalinske tersenyum. "Atau kita akan menulis ulang aturan permainan."
Dan itulah yang mereka lakukan.
"Console Wars" adalah kisah nyata tentang bagaimana underdog melawan raksasa—dan untuk beberapa tahun yang singkat tapi brilian, memenangkan pertempuran yang seharusnya tidak mungkin dimenangkan.
Tapi ini juga kisah tentang bagaimana ego, politik internal, dan kesalahan strategis bisa menghancurkan bahkan perusahaan paling brilian sekalipun.
Mari kita mulai dari awal.