Pengemis di Era Digital
Kuala Lumpur, 2019. Di jalanan sibuk dekat menara kembar Petronas, seorang profesor Harvard Business School berjalan melewati seorang pengemis.
Seperti biasa, ia akan memberikan sedikit uang. Tapi kali ini ada yang berbeda.
Pengemis itu tidak mengulurkan tangan meminta koin. Ia mengangkat smartphone-nya, menampilkan kode QR WeChat.
"Scan saja, Pak," katanya sambil tersenyum.
Karim Lakhani—profesor tersebut—terkejut sekaligus terheran. Bahkan pengemis di Asia Tenggara sudah masuk ke era pembayaran digital. Ia scan kode itu, transfer uang dalam sekejap. Tidak ada cash. Tidak ada kartu kredit. Hanya beberapa sentuhan di layar.
Ketika Lakhani mencoba menggunakan uang tunai yang ia bawa ke 7-Eleven di mal mewah, kasir malah meminta, "Bisa pakai WeChat Pay atau Alipay, Pak? Kami lebih prefer digital."
Di Asia, jauh dari Silicon Valley yang bising, revolusi diam-diam sedang terjadi. Revolusi yang mengubah cara fundamental manusia bertransaksi, berbisnis, dan hidup.
Dan di balik revolusi ini ada teknologi yang namanya semakin sering kita dengar: Artificial Intelligence.
Tapi ini bukan tentang robot yang mengambil alih dunia. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental—dan jauh lebih mengganggu.
AI sedang mengubah konsep dasar dari apa itu perusahaan.