Ukuran teks
18

Wanita yang Tidak Ingin Menikah Lagi

"Saya tidak akan pernah menikah lagi." 

Elizabeth Gilbert mengatakan ini dengan penuh keyakinan setelah perceraiannya yang menyakitkan. Dia mengatakannya kepada teman-temannya. Kepada keluarganya. Kepada dirinya sendiri setiap malam sebelum tidur. 

Dan yang paling penting, dia mengatakannya kepada Felipe—pria Brazil yang dia temui di Bali, yang menjadi bagian dari akhir bahagia buku "Eat Pray Love." 

Felipe setuju. Dia juga sudah bercerai. Dia juga tidak ingin menikah lagi. 

Kesepakatan sempurna: dua orang yang saling mencintai, berkomitmen satu sama lain, tapi tidak perlu akad nikah untuk membuktikannya. 

Mereka hidup bahagia selama hampir dua tahun. Berpindah-pindah antara Amerika dan Asia. Tidak terikat. Tidak ada tekanan. Hanya cinta. 

Lalu datang surat dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat. 

Felipe ditolak masuk kembali ke AS karena terlalu sering keluar masuk dengan visa turis. Satu-satunya cara dia bisa tinggal bersama Elizabeth di Amerika: menikah

Ironi yang kejam. 

Wanita yang bersumpah tidak akan pernah menikah lagi sekarang dipaksa menikah oleh pemerintah. 

Dan di sinilah buku "Committed" dimulai—bukan dengan romantisme, tapi dengan ketakutan, resistensi, dan pertanyaan besar: Apa sebenarnya makna pernikahan di zaman modern? 

Selama menunggu Felipe mendapat visa (yang memakan waktu hampir setahun), Elizabeth melakukan apa yang dia lakukan terbaik: meneliti. Dia membaca sejarah pernikahan, antropologi, psikologi, sosiologi. Dia mewawancarai pasangan yang sudah menikah puluhan tahun. Dia berbicara dengan orang-orang dari berbagai budaya.

Dan yang dia temukan mengubah segalanya.

Mari kita ikuti perjalanannya.

 


1 dari 11