Pertanyaan yang Tidak Nyaman
Bayangkan ini: Anda duduk di satu meja dengan orang yang Anda percaya telah menghancurkan negara Anda. Orang yang ideologinya bertentangan 180 derajat dengan nilai-nilai Anda. Orang yang, dalam hati Anda, Anda sebut sebagai "musuh."
Sekarang bayangkan Anda harus bekerja sama dengan orang itu untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa Anda selesaikan sendirian.
Bisakah Anda melakukannya?
Lebih penting lagi: haruskah Anda melakukannya?
Adam Kahane menghabiskan 30 tahun karirnya duduk di ruangan-ruangan seperti itu. Di Afrika Selatan, dia memfasilitasi dialog antara pemimpin apartheid dan pejuang kemerdekaan. Di Kolombia, dia mempertemukan pemerintah dengan gerilyawan FARC. Di Argentina, dia membawa politisi dari sayap kiri ekstrem dan kanan ekstrem ke meja yang sama.
Dan di setiap ruangan itu, dia menghadapi pertanyaan yang sama: Bagaimana kita bisa bekerja sama dengan orang yang kita tidak percayai, tidak sukai, bahkan benci?
Jawabannya mengejutkan—dan sangat relevan untuk dunia kita hari ini.
Di era polarisasi politik yang semakin parah, di mana keluarga terpecah karena perbedaan pandangan, di mana media sosial menjadi ruang gema yang hanya memperkuat keyakinan kita sendiri, pertanyaan Kahane menjadi semakin mendesak:
Apakah kita masih bisa bekerja sama dengan orang yang kita anggap musuh? Dan jika tidak, apa yang terjadi dengan dunia kita?
"Collaborating with the Enemy" bukan buku tentang menjadi baik atau naif. Ini buku tentang menghadapi kenyataan yang tidak nyaman: bahwa masalah-masalah terbesar kita—perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, konflik sosial—tidak bisa diselesaikan tanpa melibatkan orang-orang yang tidak kita setujui.
Mari kita mulai dengan pertanyaan fundamental: Mengapa kita perlu berkolaborasi dengan musuh?