Ukuran teks
18

Alarm Pukul Lima Pagi

Bayangkan bangun setiap pagi pukul 5.00. Tidak ada pilihan. Tidak ada kompromi. 

Anda bangun di kamar yang dingin. Tidak ada pemanas—terlalu mahal. Anda memakai pakaian yang sama, sudah usang, penuh tambalan yang Anda jahit sendiri malam sebelumnya. 

Anda turun ke dapur gereja yang lembab dan mulai rutinitas: memasak sarapan untuk ayah Anda yang egois, membersihkan rumah besar yang tidak pernah cukup bersih, mempersiapkan acara gereja, mengunjungi orang sakit, menjahit kostum untuk drama Natal, mencoba memeras uang dari jemaat yang kikir untuk menutupi hutang gereja. 

Tidak ada waktu istirahat. Tidak ada waktu untuk diri sendiri. Tidak ada yang mengucapkan terima kasih. 

Dan di malam hari, ketika akhirnya Anda sempat duduk, Anda menusuk-nusuk jari Anda dengan peniti—sengaja—untuk tetap terjaga sambil menjahit karena pekerjaan harus selesai. 

Ini bukan fiksi sadis. Ini kehidupan nyata Dorothy Hare, putri pendeta di desa kecil Knype Hill, Suffolk, Inggris tahun 1930-an. 

Dan inilah pertanyaan yang George Orwell ajukan melalui novel ini: 

Apa yang terjadi ketika kehidupan yang Anda jalani dengan pengabdian total tiba-tiba terasa hampa? Ketika Anda kehilangan iman yang selama ini menjadi alasan hidup Anda—tapi Anda tidak punya pilihan selain terus menjalani rutinitas yang sama? 

"A Clergyman's Daughter" adalah novel yang sering dilupakan dalam kanon Orwell. Tidak se-politis "1984." Tidak se-alegoris "Animal Farm." 

Tapi mungkin ini novelnya yang paling manusiawi—tentang seseorang yang terombang-ambing oleh kehidupan, kehilangan segalanya, dan harus menemukan cara untuk terus hidup meskipun makna sudah hilang.

 


1 dari 9