Malam yang Mengubah Filosofi
November 1971. Studio televisi di Belanda.
Dua orang duduk berhadapan—keduanya brilian, keduanya revolusioner, keduanya berkomitmen pada perubahan sosial. Tapi cara mereka melihat dunia? Bertolak belakang total.
Di sebelah kiri: Noam Chomsky, linguist Amerika berusia 42 tahun yang sudah mengubah pemahaman kita tentang bahasa dan pikiran manusia. Seorang aktivis anti-perang yang keras, percaya pada keadilan universal dan hak asasi manusia yang fundamental.
Di sebelah kanan: Michel Foucault, filsuf Prancis berusia 45 tahun yang karya-karyanya tentang kekuasaan, pengetahuan, dan institusi sosial sedang mengguncang dunia akademis. Seorang pemikir radikal yang mempertanyakan semua asumsi, termasuk konsep "kebenaran" dan "keadilan" itu sendiri.
Moderator mengajukan pertanyaan pembuka: "Apakah ada yang namanya sifat dasar manusia—human nature—yang bersifat universal dan tetap?"
Pertanyaan sederhana. Tapi jawaban mereka akan membuka salah satu perdebatan intelektual paling tajam abad ke-20.
Chomsky percaya human nature itu ada—dan pemahaman tentang itu adalah kunci untuk membangun masyarakat yang adil.
Foucault percaya human nature adalah konstruksi—alat kekuasaan yang digunakan untuk mengontrol bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri.
Siapa yang benar?
Pertanyaan ini bukan hanya soal filosofi abstrak. Ini tentang bagaimana kita memahami diri kita sendiri, bagaimana kita memperjuangkan keadilan, dan jenis masyarakat apa yang kita coba bangun.
Mari kita masuki ruangan itu. Mari kita saksikan pertarungan ide ini.