Klub Paling Rasis di Dunia
Bayangkan sebuah klub eksklusif di tengah hutan tropis Burma.
Di dalam: lantai kayu mengkilap, kursi rotan, pelayan berkulit cokelat dalam seragam putih bersih yang melayani dengan kepala tertunduk. Di dinding: kepala rusa yang diburu, foto-foto raja Inggris, bendera Union Jack.
Di luar: 4.000 orang Burma, ratusan India, puluhan China—tidak satu pun boleh masuk, kecuali sebagai pelayan.
Ini adalah Kyauktada European Club—benteng terakhir supremasi kulit putih di kota kecil Burma tahun 1920-an.
Aturannya sederhana dan brutal: Hanya kulit putih. Tidak ada pengecualian.
Tidak peduli seberapa terdidik Anda. Tidak peduli seberapa kaya Anda. Tidak peduli seberapa setia Anda kepada British Empire. Jika kulit Anda bukan putih, Anda adalah "native"—dan native tidak punya tempat di meja yang sama dengan tuan kolonial.
Tapi sekarang, tahun 1926, ada tekanan dari London. Pemerintah kolonial meminta setiap klub Eropa di Burma untuk memasukkan "setidaknya satu anggota native" sebagai gestur "kemajuan" dan "toleransi."
Anggota klub Kyauktada merespons dengan kemarahan yang hampir komik. Memasukkan native ke klub mereka? Sama saja dengan mengkhianati ras kulit putih! Ini adalah awal dari kehancuran peradaban!
Di tengah kehisterisan ini, ada satu orang yang merasa muak dengan seluruh sistem ini: John Flory.
Tapi dia terlalu pengecut untuk mengatakannya keras-keras.
Inilah tragedi yang akan George Orwell ceritakan—bukan tentang pahlawan yang melawan imperialisme. Tapi tentang seorang pria biasa yang tahu sistemnya salah, tapi terlalu lemah untuk melakukan apa pun. Dan kehancuran yang menunggunya.