Ketika "Happily Ever After" Terasa Seperti Kebohongan
Ini adalah pagi Senin yang biasa.
Sarah dan Tom duduk di meja makan. Dia membaca ponsel. Dia menatap kopinya. Tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang tidak nyaman—jenis keheningan yang terjadi ketika dua orang yang dulu tidak bisa berhenti berbicara sekarang tidak tahu harus berkata apa.
Mereka menikah lima tahun lalu. Pernikahan impian. Gaun putih. Bunga-bunga indah. Teman dan keluarga menangis bahagia. Mereka bersumpah "sampai maut memisahkan."
Tapi tidak ada yang memberitahu mereka bahwa cinta yang mereka rasakan di altar akan berubah.
Tidak ada yang memperingatkan bahwa pasangan yang dulu membuatmu tertawa sekarang bisa membuatmu frustrasi. Bahwa orang yang dulu tampak sempurna sekarang menunjukkan semua kelemahannya. Bahwa "bahagia selamanya" membutuhkan pekerjaan yang tidak pernah disebutkan di dongeng.
Sarah bertanya-tanya: Apakah kita salah menikah? Apakah ini yang namanya cinta? Atau apakah kita sudah tidak cinta lagi?
Tom bertanya-tanya: Mengapa semuanya menjadi begitu sulit? Dulu kita bahagia. Apa yang salah?
Mereka bukan pasangan yang unik. Mereka adalah mayoritas.
Statistik menunjukkan bahwa hampir 50% pernikahan berakhir dengan perceraian. Dari 50% yang bertahan, berapa banyak yang benar-benar bahagia? Berapa banyak yang hanya "bertahan" karena anak-anak, agama, atau ketakutan akan kesepian?
Inilah pertanyaan yang Kay Arthur, David Lawson, dan BJ Lawson ajukan dalam "Building A Marriage That Really Works":
Apakah mungkin membangun pernikahan yang tidak hanya bertahan, tapi benar-benar berkembang?
Jawabannya: Ya. Tapi tidak dengan cara yang dunia ajarkan.
Buku ini bukan tentang "lima bahasa cinta" atau "tips romantis." Ini tentang fondasi yang mengubah segalanya.
Mari kita mulai.