Ukuran teks
18

Pria yang Membuat Konservatisme Menjadi Intelektual

Bayangkan televisi Amerika tahun 1966. 

Di satu layar: debat politik yang serius, rumit, menggunakan kosakata yang memerlukan kamus, berlangsung selama satu jam penuh tanpa jeda iklan. 

Tidak ada teriakan. Tidak ada interupsi kasar. Tidak ada soundbites untuk viral. 

Hanya dua orang duduk berhadapan—satu host dengan postur aristokratik dan aksen Mid-Atlantic yang khas, dan satu tamu yang mungkin setuju atau sangat tidak setuju dengannya—berbicara tentang ide dengan serius. 

Program ini bernama "Firing Line." Dan host-nya adalah William F. Buckley Jr. 

Selama 33 tahun, program ini tayang—rekor terlama untuk acara TV dengan host yang sama. Lebih dari 1.500 episode. Tamu dari spektrum politik lengkap: dari Ronald Reagan hingga Noam Chomsky, dari Margaret Thatcher hingga Allen Ginsberg. 

Tapi "Firing Line" hanyalah satu bagian dari warisan Buckley. 

Sebelum dia, konservatisme Amerika tidak punya rumah intelektual yang koheren. Tidak punya majalah prestisius. Tidak punya suara yang sophisticated. Konservatif dianggap sebagai reaksioner yang membenci perubahan, rasis yang membela segregasi, atau teori konspirasi yang takut pada komunis di bawah setiap tempat tidur. 

William F. Buckley Jr. mengubah itu. 

Dia mendirikan National Review—majalah yang menjadi jantung intelektual gerakan konservatif. Dia menulis puluhan buku. Dia berdebat di televisi dengan kecerdasan dan wit yang membuat lawan-lawannya harus bekerja keras. Dia mentori generasi konservatif—termasuk Ronald Reagan.

Tapi dia juga kompleks dan penuh kontradiksi. 

Dia mulai sebagai pendukung segregasi rasis—tapi akhirnya menjadi pendukung hak sipil. Dia seorang Katolik yang taat—tapi juga mendukung legalisasi marijuana. Dia aristokrat yang lahir dalam privilege ekstrem—tapi memimpin gerakan yang mengklaim membela "orang biasa." 

Sam Tanenhaus, dalam biografi definitifnya, menunjukkan bahwa Buckley adalah pria yang membentuk gerakan—tapi gerakan itu tidak selalu mencerminkan kerumitan pribadinya. 

Ini adalah kisah tentang bagaimana satu orang bisa mengubah politik sebuah bangsa—dan pertanyaan tentang apakah itu selalu hal yang baik. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11