Malam yang Mengubah Segalanya
2 Desember 1976. Kingston, Jamaica.
Anda berdiri di luar rumah besar di Hope Road. Gitar terdengar samar dari dalam. Suara reggae yang familiar—lagu perdamaian, lagu persatuan, lagu cinta.
Tapi Anda tidak datang untuk musik.
Anda datang dengan senjata.
Di dalam rumah itu, seorang musisi sedang berlatih untuk konser perdamaian yang akan diadakan dua hari kemudian—konser yang disponsori oleh Perdana Menteri, konser yang seharusnya menyatukan Jamaica yang terpecah.
Tapi di jalanan Kingston, tidak ada yang percaya pada perdamaian. Ada hanya dua warna: hijau untuk Partai Buruh Jamaica, oranye untuk Partai Sosialis Rakyat. Dan kalau Anda memilih warna yang salah di neighborhood yang salah, Anda mati.
Musisi di dalam rumah itu mencoba berdiri di tengah. Dia menyanyi tentang cinta universal, tentang satu cinta untuk semua orang. Tapi dalam politik Jamaica, netralitas adalah pengkhianatan terhadap kedua belah pihak.
Jadi malam ini, tujuh pria dengan pistol dan senapan otomatis akan masuk ke rumah itu dan mencoba membunuh musisi paling terkenal di dunia.
Ini bukan fiksi. Ini benar-benar terjadi.
Bob Marley—meskipun dia tidak pernah disebut dengan nama aslinya dalam novel ini, hanya "The Singer"—diserang di rumahnya sendiri. Dia selamat. Tapi peluru yang ditembakkan malam itu memulai rangkaian peristiwa yang akan membunuh puluhan orang selama 15 tahun berikutnya.
Marlon James menulis "A Brief History of Seven Killings" untuk menceritakan kisah yang tidak pernah diceritakan dengan lengkap: siapa yang memerintahkan pembunuhan itu? Mengapa? Dan apa yang terjadi pada semua orang yang terlibat?
Jawabannya melibatkan gangster ghetto, agen CIA, politisi korup, jurnalis investigatif, dan pembunuh bayaran.
Dan semuanya dimulai dengan satu pertanyaan sederhana:
Apa yang terjadi ketika musik menjadi terlalu kuat—begitu kuat hingga menjadi ancaman politik?