Dua Cara Melihat Dunia
Bayangkan Anda berdiri di hutan.
Seorang ilmuwan melihat sekeliling dan melihat: Acer saccharum (maple), Quercus rubra (oak merah), ekosistem yang diatur oleh kompetisi sumber daya, siklus nitrogen, fotosintesis.
Seorang nenek dari Potawatomi Nation berdiri di tempat yang sama dan melihat: saudara-saudara tua yang memberikan naungan, kerabat yang berbagi makanan, guru-guru yang mengajarkan cara hidup, keluarga yang telah merawat manusia selama ribuan tahun.
Pohon yang sama. Hutan yang sama. Tapi dunia yang berbeda.
Robin Wall Kimmerer hidup di antara dua dunia ini.
Sebagai profesor botani dan ekologi, dia dilatih dalam metode saintifik, terminologi Latin, objektifitas. Sebagai anggota Potawatomi Nation—suku pribumi Amerika—dia dibesarkan dengan cerita tentang tanaman sebagai guru, tanah sebagai ibu, dan gratitude (rasa syukur) sebagai cara hidup.
Selama bertahun-tahun, kedua dunia ini terasa terpisah. Sains di kampus. Spiritual di upacara. Pengetahuan di jurnal akademis. Kebijaksanaan di cerita nenek.
Tapi suatu hari, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya:
Keduanya benar. Dan keduanya tidak lengkap tanpa yang lain.
Sains tanpa kebijaksanaan memberi kita kekuatan tanpa arah. Kebijaksanaan tanpa sains memberi kita arah tanpa bukti. Tapi ketika dikepang bersama—seperti tiga untaian sweetgrass (rumput harum suci) yang dikepang menjadi satu—mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat.
Inilah esensi dari "Braiding Sweetgrass": sebuah kepangan antara indigenous knowledge (pengetahuan pribumi), scientific knowledge (pengetahuan saintifik), dan story (cerita). Tiga untaian yang saling menguatkan.
Mari kita mulai mengepang.