Tidur di Parkiran Target
Bayangkan Anda berusia 16 tahun. Sekolah dimulai besok pagi. Tapi Anda tidak tidur di kamar yang hangat. Anda tidur di mobil ayah Anda—di parkiran Target, di seberang lapangan sekolah.
Ini adalah kehidupan Phillip Castaneda.
Setiap malam, dia meringkuk di kursi belakang mobil yang penuh dengan pakaian berantakan dan sisa makanan cepat saji. Ayahnya tidur di kursi depan. Mereka tidak punya rumah. Mereka tidak punya tempat lain untuk pergi.
Tapi setiap pagi, Phillip bangun. Dia cuci muka di toilet sekolah. Dia masuk ke kelas. Dan di sore hari—di sore hari, dia berubah.
Dia mengenakan seragam nomor 7. Dia berlari lebih cepat dari siapa pun di lapangan. Dia meluncur melewati lawan seperti petir. Dan untuk beberapa jam—hanya beberapa jam—dia bukan anak tunawisma yang tidur di mobil.
Dia adalah Phillip Castaneda, running back terbaik tim California School for the Deaf, Riverside.
Phillip tidak bisa mendengar sorakan penonton. Tapi dia tidak perlu mendengar. Dia merasakan—getaran kaki ribuan orang yang bertepuk tangan. Dia melihat—lampu stadion yang menyala terang. Dan dia tahu: Di lapangan ini, dia bukan yang "kurang." Dia adalah juara.
Ini bukan hanya cerita tentang Phillip. Ini cerita tentang seluruh tim—anak-anak yang dunia anggap "disabled," tapi yang mengubah "kekurangan" mereka menjadi senjata paling ampuh di lapangan.
Thomas Fuller—wartawan New York Times yang biasanya meliput perang, kebakaran hutan, dan penembakan massal—menemukan tim ini di tengah pandemi 2021. Dan dia menyadari: Ini bukan cerita olahraga biasa.
Ini cerita tentang bagaimana sekelompok anak yang diremehkan dunia, yang ditolak tim mendengar, yang dianggap "tidak bisa"—bangkit dan menjadi juara negara bagian California.
Ini cerita tentang bahasa isyarat yang lebih cepat dari kata-kata. Tentang persaudaraan yang lahir dari pengalaman yang sama. Tentang pelatih yang tidak hanya mengajarkan sepak bola—tapi mengajarkan bahwa menjadi tuli bukan kelemahan.
Ini adalah The Boys of Riverside.