Sherrie yang Tidak Bisa Bilang "Tidak"
Sherrie adalah orang baik. Semua orang bilang begitu.
Ketika temannya butuh bantuan pindahan—pada akhir pekan yang sudah Sherrie rencanakan untuk istirahat—dia bilang ya.
Ketika saudara iparnya minta pinjam uang untuk kesekian kalinya tanpa pernah bayar—meskipun Sherrie sedang kesulitan finansial—dia bilang ya.
Ketika atasan minta dia lembur lagi, meskipun dia sudah melewatkan makan malam keluarga tiga kali minggu ini—dia bilang ya.
Ketika ibu mertuanya berkunjung tanpa kabar dan menginap berminggu-minggu, mengkritik cara Sherrie membesarkan anak-anaknya—Sherrie tersenyum dan... bilang ya.
Sherrie adalah orang yang penuh kasih. Orang yang bisa diandalkan. Orang yang "tidak egois."
Sherrie juga kelelahan. Depresi. Resentful. Merasa dimanfaatkan tapi tidak tahu bagaimana menghentikannya.
Suatu malam, setelah seharian yang panjang membantu orang lain—mengabaikan kebutuhannya sendiri lagi—Sherrie duduk di dapur, menangis sendirian.
"Mengapa aku tidak bisa bilang tidak?" dia berbisik pada dirinya sendiri. "Mengapa aku merasa bersalah setiap kali aku berpikir untuk mengatakan tidak?"
Dan kemudian pertanyaan yang lebih dalam: "Apakah menjadi orang baik berarti aku harus mengorbankan diri sendiri?"
Inilah pertanyaan yang dijawab oleh Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend dalam buku "Boundaries"—buku yang telah mengubah jutaan kehidupan sejak diterbitkan pada 1992.
Jawabannya mengejutkan: Tidak. Menjadi orang baik tidak berarti mengorbankan diri sendiri. Sebaliknya, boundaries yang sehat adalah tanda dari kematangan, tanggung jawab, dan kasih yang sejati.
Mari kita mulai perjalanan untuk memahami mengapa—dan bagaimana—membangun boundaries yang mengubah hidup.