Ukuran teks
18

Narator yang Tidak Biasa

Bayangkan Kematian duduk di sebelah Anda dan mulai bercerita. 

Bukan kematian yang menakutkan dengan jubah hitam dan sabit. Tapi Kematian yang lelah. Kematian yang sensitif. Kematian yang terpesona oleh manusia—makhluk yang bisa begitu kejam namun begitu lembut di saat yang bersamaan. 

"Saya mencoba untuk tidak terlalu sibuk," kata Kematian, "tapi pada tahun 1942, saya sangat, sangat sibuk." 

Dia berbicara tentang perang. Tentang jutaan jiwa yang harus dikumpulkan. Tentang langit yang berwarna—merah ketika pemboman, putih ketika salju turun di atas mayat, hitam ketika asap menghalangi matahari. 

Dan di tengah semua kematian itu, ada satu gadis kecil yang menarik perhatiannya. Bukan karena cara dia mati—tetapi karena bagaimana dia hidup. 

Namanya Liesel Meminger. 

Dan dia adalah pencuri buku. 

"The Book Thief" karya Markus Zusak bukan sekadar novel tentang Perang Dunia II. Ini adalah kisah tentang bagaimana kata-kata bisa menghancurkan dan menyembuhkan. Tentang bagaimana dalam kegelapan terdalam, masih ada orang yang memilih untuk menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. 

Ini adalah kisah yang diceritakan oleh Kematian—karena siapa lagi yang lebih memahami nilai kehidupan selain dia yang mengambilnya setiap hari? 

Mari kita mulai dari hari pertama Kematian bertemu Liesel—hari ketika adik laki-lakinya meninggal di kereta.

 


1 dari 13