Ukuran teks
18

Buku yang Ditulis dari Keputusasaan

Bayangkan Inggris tahun 1950. 

Lima tahun setelah Perang Dunia II berakhir, tapi penjatahan makanan masih berlaku. Daging masih dijatah. Mentega langka. Gula terbatas. Telur sulit didapat. 

Di restoran, menu menawarkan hidangan dengan nama yang terdengar mewah tapi rasanya hambar: "Mock Turtle Soup" (sup kura-kura palsu dari kepala sapi), "Spam Fritters" (gorengan daging kalengan), dan sayuran rebus tanpa rasa. 

Di masa kelam ini, seorang wanita bernama Elizabeth David duduk di rumahnya yang dingin dan menulis tentang hal yang tampaknya mustahil: 

Tomat segar yang harum dipetik di pagi hari. 

Minyak zaitun hijau keemasan dari Provence. 

Ikan yang baru ditangkap, dipanggang dengan thyme liar dan lemon.

Bawang putih yang melimpah, tidak takut, tidak minta maaf. 

Orang-orang mengira dia gila. Bahan-bahan ini tidak ada di Inggris. Sebagian besar orang Inggris bahkan tidak pernah mencicipi minyak zaitun atau melihat terong. 

Tapi Elizabeth David tidak peduli. Dia tidak menulis buku resep untuk masa kini. Dia menulis peta jalan menuju dunia yang lebih baik—dunia di mana makanan bukan sekadar bahan bakar, tetapi kesenangan, keindahan, dan kehidupan itu sendiri. 

"A Book of Mediterranean Food" bukan hanya buku masak. Ini adalah manifesto revolusi kuliner. Ini adalah pelarian imajinasi ke pantai-pantai Mediterania yang hangat, pasar-pasar yang ramai, dan meja-meja yang penuh tawa dan anggur. 

Dan meskipun ditulis lebih dari 70 tahun lalu dalam konteks yang sangat berbeda, pesan intinya tetap radikal dan relevan hari ini:

Masakan terbaik dimulai dengan bahan terbaik, diperlakukan dengan kesederhanaan dan rasa hormat. 

Mari kita mulai perjalanan ini—perjalanan yang mengubah cara seluruh negara memasak dan makan.

 


1 dari 11