Ukuran teks
18

Tom yang Tidak Bisa Tidur

Tom pulang dari Vietnam pada 1978. Secara fisik, ia utuh—tidak ada luka tembakan, tidak ada amputasi. Tapi ada yang patah di dalam dirinya yang tidak terlihat mata. 

Setiap malam, mimpi buruk yang sama: penyergapan di hutan. Teman-temannya berteriak. Darah di mana-mana. Semua orang di platonnya tewas atau terluka. Hanya dia yang selamat. 

Takut tidur karena mimpi buruk, Tom begadang sambil minum alkohol untuk mematikan rasa sakit dan ingatan. Dia mudah marah dan khawatir akan kehilangan kendali di sekitar keluarganya. Satu-satunya hal yang memberikan ketenangan adalah memacu motornya dengan kecepatan berbahaya dan minum sampai mabuk. 

Ketika Dr. Bessel van der Kolk pertama kali bertemu Tom di awal karirnya sebagai psikiater, dia tidak memiliki diagnosis untuk apa yang dialami Tom. Buku manual psikiatri pada waktu itu tidak mengakui bahwa pengalaman traumatis bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang yang nyata. 

Tapi Tom bukanlah kasus unik. Di ruang tunggu van der Kolk, ada puluhan veteran lain dengan cerita serupa. Ada juga perempuan yang dulunya disiksa sebagai anak-anak. Ada korban perkosaan. Ada orang yang selamat dari kecelakaan serius. 

Mereka semua berbagi satu hal: pengalaman traumatis masa lalu mereka tidak pernah benar-benar berlalu. Tubuh mereka masih hidup di dalam trauma itu, bahkan puluhan tahun kemudian. 

Inilah yang Van der Kolk pelajari setelah lebih dari 30 tahun meneliti dan mengobati trauma: Trauma bukan hanya di kepala kita. Trauma mengubah cara otak dan tubuh kita bekerja. Dan untuk sembuh, kita tidak bisa hanya "berbicara" tentang trauma—kita harus melibatkan tubuh dalam penyembuhan.

 


1 dari 10