Doa yang Tidak Akan Pernah Dikabulkan
Bayangkan Anda berusia sebelas tahun dan setiap hari Anda berdoa untuk satu hal:
"Tolong, Tuhan. Berikan aku mata biru."
Bukan mainan. Bukan teman. Bukan bahkan makanan—meskipun kadang Anda lapar.
Mata biru.
Karena Anda percaya—dengan seluruh hati kecil Anda yang hancur—bahwa jika Anda punya mata biru seperti Shirley Temple, seperti boneka yang dijual di toko, seperti gadis kulit putih yang semua orang bilang cantik, maka:
Ayahmu akan berhenti mabuk dan memukulmu. Ibumu akan berhenti membencimu. Anak-anak di sekolah akan berhenti mengejekmu. Dunia akan mulai mencintaimu.
Ini adalah doa Pecola Breedlove.
Dan pada tahun 1970, Toni Morrison menulis tentang Pecola untuk mengajukan pertanyaan yang masih menggema lebih dari 50 tahun kemudian:
Apa yang terjadi ketika masyarakat memberitahu seorang anak bahwa dia jelek—hanya karena warna kulitnya?
Apa yang terjadi ketika standar kecantikan begitu sempit sehingga gadis kulit hitam percaya bahwa satu-satunya cara untuk dicintai adalah dengan mengubah warna matanya?
Dan siapa yang bertanggung jawab ketika anak itu hancur?
"The Bluest Eye" bukan cerita yang nyaman. Ini bukan cerita yang berakhir bahagia. Tapi ini adalah cerita yang harus dibaca—karena ia berbicara tentang kekerasan yang tidak terlihat, yang tidak meninggalkan memar di kulit tetapi menghancurkan jiwa.