Ukuran teks
18

Kejutan yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda seekor kalkun yang hidup di peternakan. Setiap hari, petani datang memberi Anda makan. Hari pertama, Anda sedikit waspada. Hari kedua, ketiga, keempat—selalu hal yang sama. Petani datang, memberi makan, pergi. 

Seratus hari berlalu. Dua ratus hari. Lima ratus hari. Seribu hari. 

Setiap hari memperkuat keyakinan Anda: "Petani ini baik. Dia peduli pada saya. Dia akan selalu memberi makan saya." 

Anda bahkan mulai membuat teori. Anda mengamati pola. Anda mencatat bahwa petani datang sekitar jam 8 pagi. Anda memprediksi perilakunya dengan akurasi tinggi. Anda merasa sangat yakin tentang masa depan Anda. 

Lalu tiba hari ke-1001. Hari Thanksgiving. 

Petani datang—tapi kali ini bukan membawa makanan. Dia membawa pisau. 

Dalam sekejap, semua yang Anda yakini tentang dunia runtuh. Seribu hari bukti bahwa petani baik ternyata tidak ada artinya dibandingkan satu hari yang membuktikan sebaliknya.

Ini adalah Black Swan. 

Nassim Nicholas Taleb, mantan trader Wall Street yang menjadi filsuf dan matematikawan, menggunakan metafora yang lebih elegan: angsa hitam. Selama ribuan tahun, orang Eropa percaya semua angsa berwarna putih. Tidak ada yang pernah melihat angsa hitam. Sampai tahun 1697, ketika penjelajah Belanda menemukan angsa hitam di Australia. 

Satu pengamatan menghancurkan ribuan tahun kepercayaan. 

Dunia kita dipenuhi dengan "angsa hitam"—kejadian yang tampak mustahil sampai terjadi, lalu mengubah segalanya. 

11 September 2001. Krisis finansial 2008. Munculnya internet. Pandemi COVID-19. Kejatuhan Tembok Berlin. Perang dunia. Bahkan pertemuan Anda dengan pasangan hidup. 

Semua ini adalah Black Swans. Dan buku Taleb mengajarkan kita satu hal yang menggelisahkan namun penting: Kita jauh lebih tidak tahu tentang dunia daripada yang kita kira.

 


1 dari 12