Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda bekerja keras, menabung gaji setiap bulan, dan berhasil menyimpan 100 juta rupiah dalam lima tahun. 

Lima tahun kemudian, Anda membuka rekening tabungan. Angkanya masih 100 juta. Tapi ketika Anda pergi berbelanja, Anda kaget: harga rumah yang dulu 500 juta sekarang 800 juta. Harga beras naik 50%. Biaya pendidikan anak naik dua kali lipat. 

Uang Anda tidak berkurang di rekening. Tapi daya belinya lenyap. 

Ini bukan kebetulan. Ini bukan "kondisi pasar." Ini adalah desain yang disengaja. 

Bank sentral di seluruh dunia—Federal Reserve di Amerika, Bank Indonesia, Bank Sentral Eropa—mencetak uang baru setiap tahun. Mereka menyebutnya "kebijakan moneter." Hasilnya? Uang Anda kehilangan nilai, sedikit demi sedikit, tahun demi tahun. 

Dan Anda tidak bisa melakukan apa-apa karena tidak ada pilihan lain. Rupiah adalah satu-satunya uang yang diterima di Indonesia. Dollar adalah reserve currency dunia. 

Sampai sekarang. 

Pada tahun 2008, seseorang (atau sekelompok orang) dengan nama samaran Satoshi Nakamoto menciptakan Bitcoin—sistem uang digital yang tidak bisa dicetak seenaknya, tidak dikontrol oleh pemerintah atau bank mana pun, dan bisa dikirim ke siapa pun di dunia dalam hitungan menit. 

Bagi sebagian orang, Bitcoin adalah spekulasi gila. Bagi yang lain, Bitcoin adalah revolusi. 

Saifedean Ammous, ekonom dengan PhD dari Columbia University, menghabiskan bertahun-tahun mempelajari sejarah uang, teori ekonomi, dan implikasi Bitcoin. Kesimpulannya radikal:

Bitcoin adalah bentuk uang paling sehat yang pernah diciptakan manusia—lebih baik dari emas, dan jauh lebih baik dari uang kertas yang kita gunakan hari ini. 

Apakah Anda setuju atau tidak, setelah membaca argumennya, Anda tidak akan pernah melihat uang dengan cara yang sama lagi. 

Mari kita mulai perjalanan ini.

 


1 dari 10