Dunia yang Runtuh
2008. Lehman Brothers bangkrut. Bear Stearns hancur. AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia, hampir ambruk. Bank-bank raksasa Wall Street yang dulunya tampak tak tersentuh tiba-tiba memohon bantuan pemerintah. Jutaan orang kehilangan rumah, pekerjaan, tabungan hidup mereka.
Ini adalah krisis finansial terburuk sejak Great Depression 1929. Ekonomi global nyaris runtuh total. Triliunan dolar menguap dalam sekejap.
Semua orang bertanya: Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bank-bank paling pintar dengan MBA dari Harvard dan Stanford, dengan teknologi paling canggih, dengan model matematika kompleks—bisa begitu salah?
Tapi ada sesuatu yang lebih mengejutkan dari krisis itu sendiri: Ada segelintir orang yang melihatnya datang.
Bukan ekonom pemerintah. Bukan CEO bank besar. Bukan pemenang Nobel atau profesor terkenal.
Mereka adalah orang-orang aneh, eksentrik, outsider yang tidak cocok dengan Wall Street. Seorang dokter mata dengan satu mata yang obsesif membaca laporan keuangan hingga larut malam. Seorang fund manager pemarah yang tidak percaya siapa pun. Dua anak muda yang memulai hedge fund dari garasi dengan modal $110.000.
Orang-orang ini tidak hanya melihat krisis datang—mereka bertaruh melawan seluruh sistem finansial. Dan mereka menang besar.
Ini adalah kisah mereka. Kisah yang diceritakan Michael Lewis dalam The Big Short—sebuah buku tentang keserakahan, kebodohan, dan keberanian melawan arus.