Ukuran teks
18

Hari Ketika Hidup Berhenti

Bayangkan ini: Anda berusia 22 tahun. Baru lulus dari Princeton. Punya pekerjaan impian sebagai war correspondent di Paris. Punya pacar tampan yang Anda cintai. Seluruh hidup terbentang di depan Anda seperti kanvas kosong yang siap dilukis dengan petualangan. 

Dan kemudian, dalam satu kalimat dari mulut dokter, semuanya hilang. 

"Anda menderita leukemia akut. Kami perlu memulai kemoterapi sekarang juga, atau Anda akan mati dalam beberapa minggu." 

Ini yang terjadi pada Suleika Jaouad pada November 2011. 

Seminggu sebelumnya, dia sedang packing untuk pindah ke Paris. Membayangkan cafe di Montmartre, meliput cerita internasional, menjelajahi Eropa di weekend. 

Sekarang? Dia terbaring di ranjang rumah sakit dengan jarum infus di kedua tangan, rambut mulai rontok, dan tidak tahu apakah dia akan hidup cukup lama untuk melihat ulang tahun berikutnya. 

"Between Two Kingdoms" adalah memoar tentang apa yang terjadi ketika hidup yang Anda rencanakan hancur—dan Anda harus menemukan cara untuk hidup dengan yang tersisa. 

Tapi ini bukan hanya cerita tentang kanker. Ini cerita tentang pertanyaan yang kita semua hadapi cepat atau lambat: 

Siapa kita ketika segala yang mendefinisikan kita diambil? Bagaimana kita hidup ketika kita tidak tahu berapa lama kita punya? Dan ketika badai berlalu, bagaimana kita menemukan jalan pulang ke kehidupan—atau menciptakan kehidupan baru? 

Mari kita masuki perjalanan Suleika.

 


1 dari 11