Telepon yang Mengubah Segalanya
18 Juni 1998. Pukul enam pagi, telepon berbunyi.
Jonathan Rosen, penulis yang baru mulai meraih kesuksesan, mengangkat dengan mata masih setengah terpejam. Suara di seberang membuat jantungnya berhenti: "Michael Laudor ditangkap. Dia membunuh tunangannya dengan pisau dapur."
Michael Laudor. Sahabat masa kecilnya. Teman bermain sejak umur tujuh tahun. Genius yang pernah diterima di Yale Law School meskipun didiagnosis skizofrenia. Orang yang kisah pemulihannya menginspirasi jutaan orang. Orang yang dijanjikan film Hollywood tentang hidupnya, dengan Brad Pitt akan memerankannya.
Michael—orang yang Rosen kenal sebagai jenius lembut, pencinta puisi, pemikir cemerlang—baru saja mengambil pisau dan menusuk Carrie Costello, calon ibu dari anaknya, hingga tewas.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Jonathan Rosen menghabiskan 25 tahun berikutnya mencoba menjawab pertanyaan itu. Dan jawabannya jauh lebih rumit—dan mengerikan—daripada yang dia bayangkan.
"The Best Minds" bukan sekadar kisah tentang seorang pria yang kehilangan akal sehatnya. Ini adalah kisah tentang bagaimana seluruh sistem kesehatan mental Amerika kehilangan arahnya. Tentang bagaimana niat baik—menutup rumah sakit jiwa yang kejam, memberikan "kebebasan" kepada orang dengan penyakit mental—berakhir dengan tragedi yang dapat diprediksi namun tidak dicegah.
Ini adalah kisah tentang kita semua. Karena Michael bisa jadi siapa saja. Carrie bisa jadi siapa saja.
Dan kegagalan sistem yang membunuh mereka? Itu masih berlangsung hingga hari ini.
Mari kita mulai dari awal.