Ukuran teks
18

Tiga Hati, Tiga Benua, Satu Kebenaran

Bayangkan Anda baru saja memenangkan Pulitzer Prize—penghargaan paling bergengsi dalam dunia jurnalistik. Karir cemerlang. Penthouse mewah di Brooklyn. Kebebasan total setelah perceraian yang menyakitkan. 

Tapi mengapa Anda masih merasa kosong? 

Mengapa setiap kali duduk di depan laptop untuk menulis, layar tetap putih selama berjam-jam? Mengapa carousel kencan dengan wanita-wanita cantik terasa seperti bermain peran? Mengapa ketika berkumpul dengan sahabat-sahabat, Anda merasa seperti roda ketujuh yang tidak pas? 

Ini adalah Harper Stewart. Penulis brilian yang tidak bisa menulis. Pria bebas yang merasa terjebak. Pemenang yang merasa kalah. 

Sekarang bayangkan Anda telah meninggalkan kehidupan korporat yang mencekik di New York. Rumah pantai di Malibu. Yoga setiap pagi. Terapi rutin. Instagram penuh dengan foto sunset dan caption tentang "healing" dan "finding yourself." 

Tapi di malam hari, sendirian, Anda masih merasakan tarikan magnetis dari seseorang yang seharusnya sudah Anda lupakan. Seseorang yang tinggal di seberang negara. Seseorang yang seharusnya menjadi masa lalu. 

Ini adalah Jordan Armstrong. Wanita yang lari sejauh mungkin tapi tidak pernah benar-benar pergi. 

Dan bayangkan Anda akhirnya menemukan kedamaian di tempat yang tidak terduga—Ghana, Afrika Barat. Anda membuka restoran impian. Putri Anda tumbuh dengan budaya yang kaya. Anda bahkan bertemu pria lokal yang menarik. 

Tapi ada rahasia yang Anda sembunyikan—rahasia yang begitu besar sampai putri Anda diam-diam menelepon mantan suami Anda untuk minta tolong.

Ini adalah Robyn Stewart. Ibu yang kuat yang menolak terlihat lemah. 

Tiga orang. Tiga benua. Satu kebenaran yang tidak bisa mereka hindari: Beberapa cinta terlalu kuat untuk diputus. Beberapa urusan tidak pernah benar-benar selesai. 

Malcolm D. Lee—sutradara yang membawa kita franchise "The Best Man" selama 25 tahun—sekarang membawa karakter-karakter ikonik ini ke halaman buku untuk pertama kalinya. Bersama penulis bestseller Jayne Allen, mereka menyelami lebih dalam ke dalam pikiran, hati, dan perjuangan karakter yang telah kita cintai selama seperempat abad. 

Ini bukan hanya sekuel. Ini adalah babak kedua—dan kadang babak kedua adalah yang paling jujur. 

Mari kita masuk.

 


1 dari 10