Ketika Langit Milan Berubah Merah
Bayangkan Anda berusia 17 tahun. Dunia Anda adalah musik jazz, gadis cantik, dan gelato di café-café Milan yang ramai. Anda bermimpi tentang cinta pertama, bukan tentang kematian. Tentang konser, bukan tentang bom. Tentang masa depan yang cerah, bukan tentang survival.
Lalu dalam satu malam, 9 Juni 1943, langit di atas Milan berubah merah.
Bukan merah matahari terbenam yang romantis. Tapi merah api yang membakar rumah-rumah. Merah ledakan bom Allied yang menghujani kota. Merah darah yang mengalir di jalanan tempat Anda bermain sebagai anak-anak.
Dalam satu malam, masa remaja Pino Lella berakhir.
Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang pemuda Italia biasa—yang hanya ingin dengar musik dan cari pacar—berubah menjadi salah satu mata-mata paling berani di Perang Dunia II. Tentang bagaimana dia menyelamatkan ratusan orang Yahudi dengan memandu mereka melintas Alps yang berbahaya. Tentang bagaimana dia menjadi driver pribadi jenderal Nazi paling berkuasa di Italia—sambil diam-diam menyabot operasi mereka.
Tapi lebih dari itu, ini adalah kisah tentang con smania—hidup dengan passion—meskipun dunia di sekitar Anda runtuh.
Mark Sullivan menghabiskan 10 tahun meneliti dan mewawancarai Pino Lella yang sesungguhnya untuk menulis novel "Beneath A Scarlet Sky." Pino, yang kini sudah berusia 90-an, awalnya enggan bercerita. Dia tidak menganggap dirinya pahlawan. Dia hanya menganggap dirinya anak muda yang melakukan apa yang harus dilakukan.
Tapi kadang, itulah yang membuat seseorang menjadi pahlawan.
Mari kita mulai dari malam yang mengubah segalanya.