Ukuran teks
18

Senyuman di Tengah Perang

Vietnam, 1960-an. Bom meledak. Desa-desa terbakar. Anak-anak menangis mencari orang tua mereka. Mayat bergelimpangan di jalan. 

Di tengah kekacauan ini, sekelompok biksu Buddha yang dipimpin oleh seorang pemuda bernama Thích Nhất Hạnh membuat keputusan yang radikal: mereka tidak akan meninggalkan dunia untuk bermeditasi di biara yang aman. 

Mereka akan tetap di tengah penderitaan. Membangun kembali desa yang hancur. Merawat yang terluka. Mendirikan sekolah untuk anak-anak yatim piatu. Mengajarkan perdamaian di tengah perang. 

Tapi inilah yang luar biasa: mereka melakukan semua ini sambil tetap menjaga kedamaian batin mereka. Sambil tetap tersenyum. Sambil tetap sadar penuh dengan setiap nafas, setiap langkah, setiap tindakan. 

Bagi mereka, meditasi bukan pelarian. Meditasi adalah cara untuk tetap waras dan penuh kasih di tengah kegilaan. 

Suatu hari, seorang wartawan Barat bertanya kepada Thích Nhất Hạnh: "Bukankah yang Anda lakukan ini berbahaya? Mengapa tidak pergi saja ke tempat yang aman?" 

Thầy (sebutan hormat untuk guru dalam bahasa Vietnam) menjawab dengan tenang: "Jika saya tidak berada di sini, di mana saya bisa mempraktikkan kedamaian?" 

Itulah esensi dari "Being Peace"—buku kecil tapi powerful yang lahir dari pengalaman Thầy mengajarkan kedamaian di Barat setelah diasingkan dari Vietnam. 

Pesan utamanya sederhana namun revolusioner: Kamu tidak bisa "membuat" perdamaian. Kamu harus MENJADI perdamaian itu sendiri. 

Mari kita jelajahi bagaimana caranya.

 


1 dari 12