Pertanyaan yang Memecah Hati
Bayangkan Anda adalah bagian dari sebuah komunitas yang selama berabad-abad mengalami penganiayaan.
Nenek moyang Anda diburu. Desa-desa Anda dibakar. Jutaan dari keluarga besar Anda dibunuh dalam salah satu genosida terburuk dalam sejarah manusia—Holocaust.
Anda tumbuh dengan narasi: "Tidak pernah lagi." Tidak pernah lagi orang-orang Anda akan menjadi korban. Tidak pernah lagi Anda akan tidak berdaya.
Lalu sebuah negara didirikan—negara yang dikatakan akan menjadi tempat perlindungan, tempat di mana orang-orang Anda akhirnya aman, di mana Anda bisa membela diri.
Dan untuk waktu yang lama, narasi itu menyatukan Anda. Anda mendukung negara itu. Anda membelanya. Ketika orang mengkritik, Anda berkata: "Anda tidak mengerti apa yang kami alami."
Tapi kemudian, sesuatu berubah.
Anda mulai melihat foto-foto anak-anak yang terbunuh—bukan anak-anak Anda, tapi anak-anak orang lain. Anda mendengar cerita tentang rumah yang dihancurkan, keluarga yang terpisah, orang-orang yang hidup di bawah pendudukan selama puluhan tahun.
Dan yang paling mengerikan: semua ini dilakukan atas nama Anda.
"Untuk keamanan orang Yahudi," kata mereka. "Untuk melindungi Israel," kata mereka. "Untuk memastikan tidak ada Holocaust lagi," kata mereka.
Tapi ketika Anda melihat kehancuran Gaza, ketika Anda melihat ribuan nyawa yang hilang—kebanyakan warga sipil, kebanyakan anak-anak—sebuah pertanyaan mulai membakar di dalam dada Anda:
Apakah ini benar-benar apa yang dimaksud menjadi Yahudi?
Peter Beinart, seorang jurnalis dan profesor Yahudi-Amerika, menulis "Being Jewish After The Destruction Of Gaza" untuk bergulat dengan pertanyaan yang menghantui ini.
Dia tidak menulis sebagai orang luar. Dia menulis sebagai orang dalam yang terluka—seseorang yang tumbuh mencintai Israel, yang diajarkan untuk membela Israel, yang ingin percaya pada narasi yang dia warisi.
Tapi dia tidak bisa lagi.
Dan buku ini adalah upayanya untuk menemukan jalan etika—bukan dengan meninggalkan identitas Yahudinya, tetapi dengan menemukan kembali apa artinya menjadi Yahudi di luar Zionisme.
Mari kita mulai perjalanan yang sulit ini.