Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Bayangkan ini: Seorang tentara muda berdiri di parit, senapan di tangan. Di seberang, 50 meter jauhnya, tentara musuh juga berdiri—lelah, lapar, takut, sama seperti dirinya.
Perintah datang: "Tembak!"
Apa yang dia lakukan?
Beberapa tentara menembak tanpa ragu. Beberapa dengan sengaja meleset. Beberapa tidak menembak sama sekali, bahkan dengan risiko dihukum.
Sekarang ubah skenarionya sedikit.
Tentara yang sama. Parit yang sama. Tapi kali ini, target di seberang bukan tentara musuh—ini adalah seorang anak kecil yang terperangkap di zona perang, menangis minta tolong.
Tentara itu drop senapannya. Dia berlari melintasi medan tembak. Dia mengangkat anak itu. Dia membawanya ke tempat aman—mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak dia kenal.
Orang yang sama. Dua perilaku yang sangat berbeda.
Pertanyaannya: Mengapa?
Robert Sapolsky, profesor biologi dan neurologi di Stanford University, menghabiskan lebih dari satu dekade—dan 700 halaman—untuk menjawab pertanyaan itu dalam buku monumentalnya, "Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst."
Jawabannya tidak sederhana. Tidak ada satu gen, satu hormon, atau satu bagian otak yang menjelaskan mengapa kita kadang altruistik dan kadang kejam, kadang empatik dan kadang acuh tak acuh.
Jawabannya ada di semua hal sekaligus—dan kita perlu melihat mundur dalam waktu untuk memahaminya.
Dari apa yang terjadi satu detik sebelum tindakan, hingga apa yang terjadi jutaan tahun yang lalu dalam evolusi kita.
Mari kita mulai perjalanan ini.