Kejeniusan yang Gagal
Pernahkah Anda bertemu orang yang sangat pintar tapi tidak ada yang mau bekerja dengannya?
John C. Maxwell menceritakan kisah tentang seorang insinyur brilian di sebuah perusahaan Fortune 500. IQ-nya di atas 160. Gelarnya dari universitas top. Kemampuan teknisnya tidak ada tandingannya di perusahaan.
Tapi dia dipecat setelah dua tahun.
Bukan karena dia tidak kompeten. Bukan karena dia tidak produktif. Tapi karena tidak ada yang tahan bekerja dengannya.
Dia arogan. Meremehkan orang lain. Tidak mendengarkan. Tidak bisa bekerja dalam tim. Setiap meeting dengannya adalah pertempuran ego. Setiap proyek bersama berakhir dengan konflik.
Perusahaan memilih: mempertahankan satu jenius yang toxic, atau mempertahankan 20 orang lain yang bisa bekerja sama. Pilihan mereka jelas.
Di sisi lain, Maxwell juga menceritakan tentang seorang manajer dengan kemampuan teknis rata-rata. Tidak punya gelar prestisius. Tidak punya IQ tertinggi di ruangan.
Tapi orang-orang ingin bekerja dengannya. Tim-nya selalu melebihi target. Karyawannya loyal. Atasannya mempromosikannya. Dalam 10 tahun, dia menjadi VP.
Apa perbedaannya?
People skills.
Penelitian dari Carnegie Institute of Technology mengungkapkan fakta mengejutkan: 85% kesuksesan Anda dalam pekerjaan ditentukan oleh people skills. Hanya 15% oleh technical skills.
Membaca itu lagi. 85% versus 15%.
Tapi coba pikirkan: berapa persen waktu pendidikan Anda dihabiskan untuk belajar technical skills? Berapa persen untuk belajar bagaimana berhubungan dengan orang?
Sebagian besar dari kita menghabiskan 99% waktu pendidikan untuk 15% yang menentukan kesuksesan. Dan mengabaikan 85% yang benar-benar penting.
Maxwell menulis "Be A People Person" untuk memperbaiki ketidakseimbangan ini. Dan kabar baiknya:
People skills bisa dipelajari.
Anda tidak perlu dilahirkan karismatik. Anda tidak perlu secara alami ekstrovert. Anda hanya perlu memahami prinsip-prinsip dan mempraktikkannya.
Mari kita mulai.