Ukuran teks
18

Suara yang Mengubah Dunia

Bayangkan tahun 1956. Anda remaja berusia 15 tahun di Amerika yang konservatif. Orang tua Anda mendengarkan Frank Sinatra dan big band. Guru Anda mengajarkan sopan santun dan kedisiplinan. Televisi menampilkan keluarga sempurna dengan senyum palsu. 

Lalu suatu malam, Anda menyalakan radio. 

Dan Anda mendengar suara ini: 

"A-wop-bop-a-loo-bop-a-lop-bam-boom!" 

Little Richard. Berteriak. Menjerit. Piano dipukul seperti ingin dihancurkan. Energi yang tidak bisa ditahan. Seks yang tidak terucap tapi sangat jelas. Kegembiraan yang liar dan primitif. 

Ini bukan musik untuk duduk sopan. Ini musik untuk bergoyang, melompat, kehilangan kontrol. 

Dan dalam sekejap, dunia berubah. 

Inilah yang Nik Cohn tulis dalam "Awopbopaloobop Alopbamboom"—buku yang ditulis saat dia berusia 23 tahun, masih cukup muda untuk mengingat dengan jelas bagaimana rasanya ketika rock 'n' roll pertama kali meledak dan menghancurkan segalanya. 

Buku ini bukan analisis akademis yang kering. Ini adalah love letter yang passionate, obituari yang marah, dan peringatan yang mendesak—semuanya sekaligus. 

Love letter untuk rock 'n' roll di masa keemasannya. Obituari untuk energi yang telah hilang. Peringatan bahwa ketika rock menjadi terlalu serius, terlalu artistik, terlalu "dewasa"—ia kehilangan jiwanya. 

Cohn menulis dengan kecepatan dan energi rock 'n' roll itu sendiri. Kalimatnya pendek, tajam, seperti pukulan drum. Opininya keras dan tidak meminta maaf. 

Dan pesannya sederhana tapi radikal:

Rock 'n' roll terbaik adalah yang sederhana, energetik, sedikit bodoh, dan sangat berbahaya. 

Mari kita masuk ke mesin waktu musik dan melihat bagaimana semuanya dimulai—dan bagaimana semuanya hampir hilang.

 


1 dari 9