Hidup yang Berhenti di Tengah Jalan
Bayangkan ini: Anda berusia 20 tahun. Tahun 1926. Anda sedang jatuh cinta. Merencanakan masa depan. Belajar di universitas. Dunia ada di depan Anda.
Lalu suatu pagi, Anda merasa sedikit lelah. Demam ringan. Tidak terlalu aneh—mungkin flu biasa.
Tapi keesokan harinya, Anda tidak bisa bangun dari tempat tidur. Gerakan Anda melambat. Mata Anda sulit terbuka. Pikiran Anda mulai berkabut.
Dan perlahan—sangat perlahan—Anda berhenti.
Bukan mati. Masih bernafas. Jantung masih berdetak. Tapi Anda tidak bisa bergerak. Tidak bisa berbicara. Tidak bisa merespon. Anda terjebak di dalam tubuh Anda sendiri, seperti patung yang hidup.
Tahun demi tahun berlalu. 1930. 1940. 1950. 1960. Dunia berubah di sekitar Anda. Perang dunia. Revolusi teknologi. Orang yang Anda cintai menua dan mati. Tapi Anda membeku dalam waktu.
40 tahun kemudian, tahun 1969, seorang dokter muda bernama Oliver Sacks datang ke institusi tempat Anda dan puluhan pasien lain "tidur" selama puluhan tahun. Dia membawa obat baru: L-DOPA.
Dan tiba-tiba, setelah 43 tahun, Anda terbangun.
Tapi Anda terbangun di dunia yang asing. Tubuh Anda sudah tua—60 tahun—tapi pikiran Anda masih 20. Semua orang yang Anda kenal sudah tua atau mati. Musik yang Anda dengarkan sudah kuno. Cara orang berbicara sudah berbeda.
Dan yang lebih menakutkan: kebangkitan ini tidak permanen. Obat itu menciptakan efek samping yang mengerikan. Gerakan tak terkontrol. Obsesi. Mania. Delusi.
Apakah lebih baik untuk terbangun sebentar dan menderita? Atau tidur selamanya dalam ketenangan?
Inilah dilema yang dihadapi oleh Oliver Sacks dan pasien-pasiennya dalam "Awakenings"—salah satu buku medis paling mendalam dan manusiawi yang pernah ditulis.
Ini bukan hanya tentang penyakit dan obat. Ini tentang apa artinya menjadi manusia. Tentang waktu. Tentang kesadaran. Tentang pilihan antara kehidupan yang menderita dan tidur yang tenang.
Mari kita masuki dunia yang luar biasa ini.