Ukuran teks
18

Kebangkitan di Tengah Kelimpahan

Jen Hatmaker duduk di ruang keluarganya yang luas. Di sekeliling ada sofa empuk, TV layar datar 60 inci, dekorasi rumah dari toko mahal, lemari penuh dengan pakaian yang sebagian masih pakai label harga. 

Di garasi: dua mobil bagus. Di kulkas: makanan berlimpah. Di rekening bank: cukup untuk hidup nyaman. 

Dia seorang penulis Kristen sukses. Pembicara di berbagai konferensi. Istrinya seorang pendeta di megachurch. Mereka punya lima anak sehat. Rumah besar di suburban Austin, Texas. Teman-teman baik. Kehidupan yang—menurut standar Amerika—sempurna. 

Dan dia merasa... kosong

Bukan depresi. Bukan krisis. Tapi sesuatu yang lebih halus dan lebih mengganggu: perasaan bahwa dia tertidur dalam hidupnya sendiri. 

Pergi ke gereja setiap Minggu—check. Berdoa sebelum makan—check. Terlibat dalam pelayanan—check. Tapi di dalam, ada pertanyaan yang terus berbisik: 

"Apakah ini yang Yesus maksud ketika Dia bilang 'ikut Aku'?" 

Suatu malam, Jen sedang membaca Injil—bukan untuk persiapan mengajar atau menulis, tapi benar-benar membaca. Dan dia tersandung pada ayat yang sudah dia baca ratusan kali: 

"Lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk ke kerajaan Allah." 

Tiba-tiba, seperti ditampar, dia sadar: 

Dia adalah orang kaya yang Yesus bicarakan. 

Bukan karena dia punya jet pribadi atau mansion. Tapi karena secara global, siapa pun yang punya rumah dengan AC, kulkas penuh, dan mobil—adalah 1% terkaya di dunia.

Malam itu, Jen Hatmaker mulai bangun

Dan kebangkitan itu—painful, mengacaukan, transformatif—adalah kisah yang dia ceritakan dalam "Awake."

 


1 dari 12