Ukuran teks
18

Tiga Roti dan Mimpi Baru

Bayangkan seorang pemuda berusia 17 tahun, basah kuyup, kelelahan, dengan pakaian kotor dan saku yang menggembung penuh dengan kaus kaki dan kemeja. Di sakunya hanya tersisa satu koin—sisa terakhir dari perjalanan yang melelahkan. 

Dia berjalan di sepanjang Market Street, Philadelphia, pada pagi Minggu di Oktober 1723. Lapar. Lelah. Tidak mengenal siapa pun. Tidak tahu harus kemana. 

Dia melihat seorang anak laki-laki membawa roti. "Di mana kamu beli itu?" tanyanya. Anak itu menunjuk ke toko roti di Second Street. 

Sampai di toko roti, dia meminta biskuit—seperti yang biasa dia beli di Boston. Tapi toko roti Philadelphia tidak menjual jenis itu. Dia bingung dengan nama-nama roti yang berbeda. Akhirnya dia berkata, "Berikan saya tiga sen apapun." 

Penjual roti memberinya tiga roti besar yang lembut. Dia tidak punya tempat untuk membawa semua itu. Jadi dia berjalan di sepanjang jalan dengan satu roti di bawah setiap lengan dan yang ketiga di tangannya sambil memakannya. 

Di depan rumah keluarga Read, seorang gadis muda bernama Deborah berdiri di pintu. Dia melihat pemuda aneh ini lewat—kotor, lusuh, membawa roti seperti orang gila. 

Deborah tertawa dalam hati. "Dia terlihat sangat konyol dan aneh," pikirnya. Gadis itu tidak tahu bahwa pemuda konyol itu kelak akan menjadi suaminya. 

Dan pemuda itu—Benjamin Franklin—tidak tahu bahwa dia baru saja mengambil langkah pertama dalam perjalanan yang akan mengubahnya dari anak pelarian menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Amerika. 

Ini adalah kisahnya—kisah tentang bagaimana seseorang dengan awal yang sangat sederhana bisa membangun dirinya menjadi luar biasa melalui disiplin, kerja keras, dan sistem yang brilian.

 


1 dari 8