Ukuran teks
18

Pria yang Mati Kaya, Mati dalam Aib

"Pria yang mati kaya, mati dalam aib." 

Kata-kata ini, yang ditulis Andrew Carnegie pada tahun 1889, mengejutkan dunia. Di era dimana mogul industri membangun istana mewah dan mengumpulkan harta sebanyak mungkin, seorang pria terkaya di dunia mengatakan bahwa kekayaan yang tidak diberikan adalah aib? 

Tapi untuk memahami pernyataan radikal ini, kita harus kembali ke awal—ke loteng kecil di sudut Moodie Street dan Priory Lane, Dunfermline, Skotlandia, di mana pada 25 November 1835, seorang bayi laki-laki bernama Andrew Carnegie lahir dalam kemiskinan yang meresahkan. 

Tidak ada yang bisa memprediksi bahwa anak ini akan menjadi salah satu orang terkaya dalam sejarah manusia. Atau bahwa ia akan memberikan hampir seluruh kekayaannya—lebih dari 90% dari fortune-nya—untuk kebaikan umat manusia. 

Ini adalah kisah tentang bagaimana penenun damask yang bangkrut menjadi raja baja. Tentang bagaimana imigran miskin membangun Amerika. Tentang bagaimana satu pria mengubah konsep filantropi selamanya. 

Ini adalah kisah Andrew Carnegie—dalam kata-katanya sendiri.

 


1 dari 11