Ukuran teks
18

Otak yang Berbeda, Bukan Rusak

Bayangkan Anda berusia empat tahun dan tidak bisa bicara. 

Setiap suara terasa seperti sirine yang menusuk telinga. Sentuhan terasa seperti kulit terbakar. Cahaya terlalu terang. Bau terlalu kuat. Dunia adalah tempat yang overwhelming, menakutkan, tidak masuk akal. 

Orang-orang di sekitar Anda bicara, tapi kata-kata mereka hanya noise. Anda ingin berkomunikasi, tapi tidak tahu bagaimana. Frustrasi menumpuk. Anda berteriak. Anda memukul kepala Anda sendiri. Orang-orang melihat Anda dengan tatapan bingung, kasihan, atau takut. 

Ini adalah masa kecil Temple Grandin. 

Pada tahun 1950, dokter mendiagnosa Temple dengan "brain damage"—kerusakan otak. Mereka merekomendasikan institusi mental. Mereka bilang dia tidak akan pernah bicara, tidak akan pernah hidup normal, tidak akan pernah berkontribusi pada masyarakat. 

Mereka salah. 

Temple Grandin hari ini adalah profesor ilmu hewan di Colorado State University, desainer sistem penanganan ternak yang digunakan di setengah peternakan di Amerika Utara, penulis bestseller, dan salah satu advokat autisme paling berpengaruh di dunia. 

Dia tidak "sembuh" dari autisme. Dia masih autis. Otaknya masih bekerja dengan cara yang berbeda. 

Tapi dia belajar sesuatu yang revolusioner—sesuatu yang mengubah cara kita memahami autisme: 

Otak autis bukan otak yang rusak. Otak autis adalah otak yang berbeda. Dan perbedaan itu bisa menjadi kekuatan luar biasa.

Buku "The Autistic Brain" adalah hasil dari puluhan tahun Temple meneliti otaknya sendiri—secara harfiah. Dia menjalani brain scan berkali-kali. Dia bekerja dengan neuroscientist terkemuka. Dia mewawancarai ratusan orang autis. 

Dan dia menemukan sesuatu yang dunia medis abaikan selama puluhan tahun: 

Autisme bukan satu kondisi. Autisme adalah spektrum dari cara berpikir yang berbeda. Dan setiap tipe pemikir autis punya kekuatan unik yang dunia desperately butuhkan. 

Mari kita masuki pikiran yang luar biasa ini.

 


1 dari 10