Ukuran teks
18

Orang Asing di Stasiun Kereta

Bayangkan Anda sedang menunggu kereta di stasiun Antwerpen, Belgia. Tahun 1967. Sore yang dingin. 

Di bangku seberang, ada seorang pria duduk sendiri. Usia empat puluhan, mengenakan ransel hiking yang usang, membawa buku tebal tentang arsitektur. Dia tidak seperti pelancong biasa—ada sesuatu dalam caranya menatap bangunan stasiun, seolah-olah dia sedang membaca cerita yang tidak terlihat orang lain. 

Anda tidak berniat berbicara dengannya. Tapi entah bagaimana, percakapan dimulai. 

Pria itu berbicara tentang arsitektur stasiun kereta—tentang bagaimana bangunan-bangunan megah ini dibangun untuk merayakan kekuasaan dan kemajuan, tapi juga tentang bagaimana mereka menjadi saksi deportasi jutaan orang menuju kematian selama Perang Dunia II. 

Dia berbicara dengan cara yang aneh—kalimat-kalimat panjang yang mengalir tanpa jeda, melompat dari topik ke topik, dari masa kini ke masa lalu, seolah waktu baginya tidak linear. 

Namanya Jacques Austerlitz. 

Dan selama tiga puluh tahun ke depan, Anda akan bertemu dengannya lagi dan lagi—di stasiun-stasiun berbeda, di kota-kota berbeda—dan perlahan-lahan, dia akan menceritakan kisahnya. Kisah tentang seorang pria yang menghabiskan setengah hidupnya tidak tahu siapa dirinya sebenarnya. 

Kisah tentang seorang anak yang dikirim dengan kereta dari Praha ke Inggris pada tahun 1939—diselamatkan dari Holocaust, tapi kehilangan segalanya: nama, bahasa, keluarga, masa lalu. 

Kisah tentang bagaimana Anda bisa hidup bertahun-tahun dengan kenangan yang terkubur begitu dalam sehingga Anda bahkan tidak tahu kenangan itu ada. 

Sampai suatu hari, tanpa peringatan, masa lalu itu meledak kembali ke permukaan.

"Austerlitz" oleh W. G. Sebald adalah novel tentang memori, trauma, dan pencarian identitas. Tapi lebih dari itu: ini adalah meditasi tentang bagaimana masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu, bagaimana sejarah hidup dalam diri kita bahkan ketika kita tidak mengingatnya, dan bagaimana perjalanan menemukan asal-usul adalah perjalanan menemukan diri sendiri. 

Mari kita mulai perjalanan ini—perjalanan yang akan membawa kita dari stasiun kereta Eropa ke kuburan memori yang terlupakan.

 


1 dari 11