Ukuran teks
18

Ketika Negara Kaya Menjadi Miskin

2008. Dunia keuangan runtuh. 

Lehman Brothers bangkrut. Bear Stearns dijual dengan harga receh. Bank-bank raksasa yang dulu tampak tak terkalahkan tiba-tiba memohon bailout pemerintah untuk bertahan hidup. 

Tapi kehancuran tidak berhenti di Wall Street. 

Seperti boomerang yang dilempar keras, krisis keuangan yang dimulai di Amerika kembali dengan kekuatan yang menghancurkan—tidak ke Amerika saja, tetapi ke seluruh dunia. 

Islandia—negara nelayan kecil dengan 300.000 penduduk—tiba-tiba bangkrut dengan hutang $100 miliar. Yunani—tempat kelahiran demokrasi—terungkap telah berbohong tentang keuangan mereka selama bertahun-tahun. Irlandia—"Celtic Tiger" yang dulu dikagumi—runtuh karena bubble properti yang absurd. 

Michael Lewis, penulis "The Big Short" dan "Moneyball," memutuskan untuk melakukan perjalanan. Bukan ke negara-negara Third World tradisional—negara miskin yang belum berkembang. Tapi ke "Third World Baru"—negara-negara kaya yang bangkrut karena hutang, keserakahan, dan keputusan bodoh. 

Dan dalam perjalanannya, Lewis menemukan sesuatu yang mengejutkan: 

Ketika uang murah dan berlimpah tersedia, setiap negara merespons dengan cara yang mencerminkan karakter nasional mereka yang paling dalam—untuk lebih baik atau lebih buruk. 

Islandia berubah jadi banker yang agresif dan ceroboh. Yunani berubah jadi peminjam yang curang dan korup. Irlandia berubah jadi spekulan properti yang gila. Jerman berubah jadi... well, mari kita lihat. 

Ini bukan hanya cerita tentang ekonomi. Ini cerita tentang psikologi nasional, budaya, dan apa yang terjadi ketika orang tiba-tiba punya akses ke uang yang mereka tidak mengerti.

 


1 dari 8