Pertanyaan yang Salah
Tahun 1983, seorang pria berusia 29 tahun duduk di kantor venture capitalist paling bergengsi di Silicon Valley.
Dia baru saja keluar dari perguruan tinggi hukum. Punya MBA dari Stanford. Resume yang mengesankan. Pintar. Ambisius.
Dia datang dengan pitch sempurna. Presentasi PowerPoint rapi. Proyeksi finansial yang agresif tapi "realistis." Dia sudah latihan pidato di depan cermin puluhan kali.
Venture capitalist mendengarkan dengan sabar. Lalu bertanya satu pertanyaan yang mengubah segalanya:
"Mengapa Anda melakukan ini?"
Pria itu terdiam. Lalu menjawab dengan jujur: "Saya ingin kaya. Saya melihat peluang pasar yang besar."
Venture capitalist tersenyum tipis dan berkata, "Terima kasih sudah datang." Meeting berakhir dalam lima menit.
Orang itu adalah Guy Kawasaki—dan dia belajar pelajaran terpenting tentang memulai sesuatu pada hari itu:
Jika motivasi utama Anda adalah uang, Anda sudah kalah sebelum mulai.
Beberapa bulan kemudian, Guy mendapat panggilan kedua—kali ini dari Steve Jobs.
"Aku ingin kamu bergabung dengan Apple," kata Steve. "Kami sedang membuat komputer yang akan mengubah dunia. Komputer untuk the rest of us—bukan hanya engineer dan programmer. Kita akan memberdayakan orang biasa untuk melakukan hal-hal luar biasa."
Guy bertanya, "Berapa gajinya?"
Steve menjawab, "Lebih sedikit dari yang kamu dapat sekarang. Tapi kamu akan mengubah dunia."
Guy bergabung. Dan dia menjadi salah satu "evangelist" pertama Macintosh—membantu meluncurkan produk yang benar-benar mengubah industri komputer.
Tiga puluh tahun kemudian, setelah bekerja dengan ratusan startup, investasi di puluhan perusahaan, dan menjadi advisor bagi entrepreneur di seluruh dunia, Guy menulis "The Art of the Start 2.0."
Ini bukan buku teori. Ini adalah panduan praktis yang lahir dari ribuan kesalahan, kegagalan, dan pembelajaran.
Pertanyaan yang dia jawab sederhana:
Bagaimana Anda memulai sesuatu—bisnis, produk, gerakan, perubahan—dan benar-benar membuatnya berhasil?
Mari kita mulai.