Ukuran teks
18

Tweet yang Mengubah Segalanya

Tahun 2013. Guy Kawasaki duduk di ruang kerjanya, menatap layar komputer dengan frustrasi. 

Dia baru saja menghabiskan dua jam menulis artikel blog yang brilian—atau setidaknya dia pikir begitu. Riset mendalam. Wawasan tajam. Ditulis dengan sempurna. 

Dia posting di Twitter: "Artikel baru saya tentang strategi marketing!" dengan link.

Hasilnya? 3 retweet. 7 likes. Hampir tidak ada traffic ke website-nya. 

Tapi kemudian, hampir tanpa pikir, dia memposting foto kucing dengan caption lucu yang dia ambil dari internet. 

Dalam 2 jam: 247 retweet. 892 likes. Viral. 

"Ini tidak masuk akal," gerutunya pada Peg Fitzpatrick, co-authornya yang juga expert media sosial. "Aku menghabiskan 2 jam untuk artikel berkualitas—diabaikan. Foto kucing 10 detik—viral." 

Peg tertawa. "Guy, kamu baru saja belajar pelajaran paling penting tentang media sosial."

"Apa?" 

"Media sosial bukan tentang apa yang KAMU pikir penting. Ini tentang apa yang AUDIENS-mu anggap menarik, berguna, atau menghibur." 

Momen itu mengubah cara Guy Kawasaki—mantan Chief Evangelist Apple, penulis bestseller, salah satu pionir Silicon Valley—memahami media sosial. 

Dan itu membawanya menulis "The Art of Social Media"—buku yang merangkum ratusan eksperimen, ribuan jam testing, dan jutaan data point tentang apa yang benar-benar bekerja di media sosial.

Bukan teori. Bukan asumsi. Data dan hasil nyata. 

Jika Anda ingin membangun personal brand yang kuat, mengembangkan bisnis melalui media sosial, atau sekadar tidak menyia-nyiakan waktu Anda di platform yang salah dengan cara yang salah—buku ini (dan ringkasan ini) untuk Anda. 

Mari kita mulai dengan fondasi.

 


1 dari 11