Ukuran teks
18

Ketika Cleopatra Mengubah Sejarah Dunia

Roma, 48 SM. Julius Caesar, pemimpin militer terkuat di dunia, duduk di istananya di Alexandria. Ia telah menaklukkan kerajaan demi kerajaan, menaklukkan musuh demi musuh. Tidak ada yang bisa menundukkannya. 

Lalu, di malam yang akan mengubah sejarah, seorang wanita muda berusia 21 tahun diselundupkan masuk ke istana—dibungkus dalam karpet. Ketika karpet itu dibuka, muncullah Cleopatra, Ratu Mesir. 

Bukan kecantikan fisiknya yang memikat Caesar—sejarah mencatat bahwa Cleopatra tidak secantik yang sering digambarkan. Yang membuatnya tak tertahankan adalah sesuatu yang jauh lebih kuat: kemampuannya untuk merayap ke dalam pikiran, memahami hasrat terdalam, dan menjadi fantasi hidup yang tak terlupakan. 

Dalam semalam, Caesar—yang telah datang untuk menaklukkan Mesir—justru ditaklukkan. Ia jatuh cinta. Ia memberikan tahta kembali kepada Cleopatra. Ia mengubah arah politik Roma demi wanita ini. 

Beberapa tahun kemudian, setelah Caesar dibunuh, Cleopatra melakukan hal yang sama pada Mark Antony—jenderal paling kuat di Roma. Antony, yang seharusnya menghukum Cleopatra karena kedekatannya dengan Caesar, malah jatuh cinta. Ia meninggalkan Roma, meninggalkan istri dan karirnya, dan menghabiskan sisa hidupnya bersama Cleopatra. 

Apa yang dimiliki Cleopatra? Apa yang membuatnya bisa menaklukkan dua pria paling berkuasa di dunia? 

Robert Greene, dalam "The Art of Seduction," menjawab pertanyaan ini dengan cara yang revolusioner: Cleopatra menguasai seni kuno seduction—seni yang bukan tentang seks, tetapi tentang power. Seni yang bukan tentang keindahan fisik, tetapi tentang psikologi. 

Dan seni ini, menurut Greene, bisa dipelajari oleh siapa saja.

 


1 dari 8