Ukuran teks
18

Pelajaran dari Seorang Budak yang Menjadi Filsuf

Romawi, abad pertama Masehi. 

Seorang budak lumpuh berdiri di sudut ruangan, mendengarkan tuannya—seorang pejabat tinggi Kaisar Nero—berdebat dengan tamu-tamunya tentang kekuasaan, kekayaan, dan kebahagiaan. 

Mereka berbicara tentang tanah yang mereka kuasai, budak yang mereka miliki, pengaruh yang mereka miliki di istana. 

Budak itu mendengarkan dalam diam. Namanya Epictetus—yang secara harfiah berarti "yang diperoleh" atau "budak." 

Dia tidak memiliki apa-apa. Bahkan namanya sendiri bukan miliknya. Kakinya lumpuh—ada yang bilang karena tuannya mematahkannya dalam kemarahan, ada yang bilang karena penyakit sejak lahir. 

Tapi sementara tuannya dan para tamu sibuk mengkhawatirkan hal-hal yang bisa mereka kehilangan kapan saja—kekayaan, kekuasaan, kesehatan—Epictetus menemukan sesuatu yang tidak bisa diambil siapa pun darinya: 

Kebebasan pikirannya. 

Bertahun-tahun kemudian, setelah dimerdekakan, Epictetus menjadi salah satu filsuf paling berpengaruh di Romawi. Kaisar Marcus Aurelius sendiri mempelajari ajarannya. Dan 2.000 tahun kemudian, kebijaksanaannya masih mengubah hidup jutaan orang. 

Apa yang membuat seorang budak lumpuh lebih bebas daripada kaisar yang berkuasa atas seluruh dunia? 

Jawabannya ada dalam buku kecil yang dia tinggalkan—sebuah panduan praktis untuk hidup yang disebut "Enchiridion" (Handbook).

"The Art of Living" adalah interpretasi modern dari ajaran Epictetus ini, diterjemahkan oleh Sharon Lebell untuk pembaca kontemporer. 

Dan pesannya sesederhana ini: Anda tidak bisa mengontrol apa yang terjadi pada Anda. Tapi Anda selalu bisa mengontrol bagaimana Anda merespons. 

Mari kita pelajari seni hidup dari seorang pria yang tidak memiliki apa-apa, tapi menemukan segalanya.

 


1 dari 12