Ukuran teks
18

Anak yang Menemukan Catur di Taman

Washington Square Park, New York City, 1984. Seorang anak berusia enam tahun berjalan melewati kerumunan pemain catur jalanan. Papan-papan catur tersebar di atas meja-meja beton. Pria-pria dengan mata tajam dan tangan cepat memainkan permainan kilat—blitz chess—dengan uang taruhan di atas meja. 

Anak itu berhenti. Matanya tertarik pada pola-pola di papan. Gerakan bidak. Strategi serangan. Pertahanan yang tersembunyi. 

Tanpa disadari siapapun, kehidupan Josh Waitzkin baru saja berubah selamanya. 

Dalam beberapa bulan, anak itu tidak hanya mengerti catur—ia mengalahkan pemain-pemain jalanan yang sudah bermain puluhan tahun. Pada usia sembilan tahun, ia menjadi juara catur nasional pertamanya. Film Hollywood dibuat tentang hidupnya. Buku ditulis oleh ayahnya. Ia menjadi sensasi media—"the next Bobby Fischer." 

Tapi cerita ini bukan tentang bagaimana seorang anak ajaib menjadi juara catur. 

Ini adalah cerita tentang sesuatu yang jauh lebih dalam: bagaimana ia belajar cara untuk belajar. 

Karena sepuluh tahun kemudian, Josh Waitzkin meninggalkan dunia catur. Ia beralih ke seni bela diri Tai Chi Chuan—disiplin yang tampaknya sama sekali berbeda. Tidak ada papan. Tidak ada bidak. Hanya tubuh, energi, dan lawan yang nyata. 

Dan kemudian, yang mustahil terjadi: ia menjadi juara dunia Tai Chi Push Hands.

Dua bidang yang sama sekali berbeda. Satu pikiran. Dua puncak kesuksesan.

Bagaimana mungkin? 

"Yang saya pahami," kata Josh, "adalah bahwa yang paling saya kuasai bukanlah Tai Chi, dan bukan catur. Yang paling saya kuasai adalah seni belajar itu sendiri."

Inilah kisah tentang proses itu—tentang prinsip-prinsip universal yang membuat seseorang bisa mencapai keunggulan di bidang apapun. Tentang bagaimana tidak ada yang namanya bakat murni tanpa proses pembelajaran yang tepat. Dan tentang bagaimana Anda—siapapun Anda—bisa menerapkan prinsip yang sama dalam perjalanan Anda sendiri.

 


1 dari 8