Ukuran teks
18

Pesan yang Tidak Dijawab

Pukul 10:13 pagi. Anda mengirim pesan ke teman dekat: 

"Hey! Kapan kita bisa ketemuan minggu ini?" 

10:30. Belum ada balasan. Dia biasanya cepat balas. 

11:00. Masih belum ada balasan. "Read" nya sudah centang biru. 

11:45. Anda mulai berpikir: "Apa aku bilang sesuatu yang salah waktu terakhir ketemu? Apa dia sebenernya nggak suka sama aku? Apa aku terlalu annoying minta ketemuan terus?" 

12:30. Anda sudah membuat 15 skenario berbeda dalam kepala tentang mengapa dia tidak balas. Semua skenario berakhir dengan: "Dia pasti marah sama aku." 

1:00 siang. Anda hampir mau mengirim pesan lagi: "Eh, aku ganggu nggak sih?" tapi takut terlihat desperate. 

2:15. Akhirnya dia balas: "Sorry baru balas! Tadi meeting panjang banget. Weekend minggu ini oke nggak?" 

Ternyata dia tidak marah. Dia hanya sibuk. Tapi Anda sudah menghabiskan empat jam dalam kecemasan, membuat cerita-cerita dalam kepala, dan meragukan seluruh pertemanan Anda. 

Apakah ini terdengar familiar? 

Jika ya, Anda tidak sendirian. 

Meg Josephson, seorang terapis dan penulis, menghabiskan lebih dari satu dekade bekerja dengan klien yang mengalami pola yang sama: overthinking dalam hubungan, kecemasan sosial yang melumpuhkan, dan kebutuhan konstan akan validasi bahwa "semuanya baik-baik saja."

Buku "Are You Mad at Me?" adalah panduan untuk menghentikan spiral ini. Bukan hanya tentang overthinking—tapi tentang mengapa kita melakukannya, bagaimana pola ini terbentuk, dan yang paling penting: bagaimana keluar dari sana. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 10