Ukuran teks
18

Pemanah yang Berpura-pura Bodoh

Di pinggiran kota kecil ada seorang pria bernama Tetsuya yang bekerja sebagai tukang kayu. 

Tidak ada yang istimewa tentang dia. Dia bangun pagi, pergi ke bengkel, membuat meja dan kursi, pulang sore hari. Kehidupan yang sederhana. Kehidupan yang biasa. 

Tapi ada satu rahasia yang hanya sedikit orang tahu: Tetsuya dulunya adalah pemanah terbaik di negara itu. 

Bertahun-tahun lalu, nama Tetsuya disegani. Ketika dia melepaskan anak panah, dia tidak pernah meleset. Tidak pernah. Dia bisa menembak target dari jarak yang membuat pemanah lain gemetar. Dia bisa menembus anak panah yang sudah menancap di target—sesuatu yang hampir mustahil. 

Lalu suatu hari, dia menghilang. Meninggalkan kompetisi. Meninggalkan ketenaran. Dan menjadi tukang kayu biasa. 

Mengapa? 

Suatu sore, seorang pemuda datang ke bengkelnya. Pemuda itu mendengar rumor tentang Tetsuya dan datang dengan tantangan. 

"Saya dengar Anda dulunya pemanah hebat," kata pemuda itu dengan arogan. "Tapi saya ragu. Tunjukkan pada saya." 

Tetsuya tersenyum lembut. "Saya hanya tukang kayu. Anda pasti salah orang." 

"Jangan pura-pura," desak pemuda itu. "Saya datang jauh-jauh untuk ini. Jika Anda benar-benar pemanah hebat, buktikan." 

Tetsuya diam sejenak. Lalu dia berdiri dan berjalan keluar, diikuti oleh pemuda itu dan beberapa penduduk desa yang penasaran.

Dia berdiri di halaman kosong. Mengambil busur kayu sederhana. Memasang anak panah. Dan menatap pohon roses di kejauhan—sekitar 50 meter, dengan bunga kecil di puncaknya. 

Dia menarik busur. Melepas. 

Anak panah melesat dan memotong tepat di tengah bunga roses, membelahnya dua tanpa merusak cabang. 

Kerumunan terkesima. Tapi pemuda itu tidak puas. 

"Itu keberuntungan. Lakukan lagi." 

Tetsuya mengambil anak panah kedua. Membidik. Melepas. 

Anak panah kedua mengenai anak panah pertama, membelahnya di tengah, dan menancap tepat di tempat yang sama. 

Pemuda itu terdiam. Dia paham sekarang bahwa dia berada di hadapan seorang master. 

Tapi alih-alih menjadi rendah hati, dia bertanya dengan kesal: "Jika Anda sebaik ini, mengapa Anda menyembunyikan bakat Anda? Mengapa Anda hidup sebagai tukang kayu?" 

Tetsuya tersenyum lagi, dan kali ini senyumnya lebih dalam. 

"Karena memanah mengajari saya sesuatu yang lebih penting daripada menang. Dan pelajaran itu tidak bisa diajarkan melalui kompetisi atau kesombongan. Hanya melalui kerendahan hati dan latihan yang sungguh-sungguh." 

"Ajari saya," kata pemuda itu, kali ini dengan tulus. 

Dan mulai saat itu, Tetsuya mulai mengajarkan apa yang dia pelajari—bukan hanya tentang memanah, tapi tentang kehidupan itu sendiri.

 


1 dari 12